Halo semuanya, bagaimana kabar Anda? Blog ini memang masih baru, "fresh from the oven" dan mungkin ada yang bertanya-tanya, "Kok judulnya Hidden Light? Kok alamatnya Shinera? Makanan apa 2 hal itu?" Tentu ada maksudnya, hehe. Keinginan saya untuk kembali menulis blog berawal dari pengalaman yang cukup mengejutkan. Awalnya saya bukan pribadi yang dapat memaknai ajaran-ajaran agama dengan baik. Bahkan untuk membicarakan hal-hal yang bersifat religius pun saya merasa tidak layak meskipun yang ingin saya bicarakan itu adalah hal yang baik. Mengapa? Kehidupan saya belum dapat mencerminkan pribadi yang mengenal Tuhan, sehingga saya merasa tidak layak untuk mengungkapkan hal-hal demikian pada saat itu.
Selama 20 tahun saya masih menyangkal kehadiran Tuhan dalam kehidupan saya sendiri, berulang-ulang kali itu terjadi. Bahkan saat saya mengalami masa terpuruk dalam hidup saya, saya pun masih "menolak" Tuhan. Pada saat itu saya kehilangan kepercayaan dari sejumlah orang atas kesalahan yang tidak saya perbuat. Mereka pun melibatkan seorang ahli kesehatan mental untuk menyelidiki saya berbohong/tidak. Pada saat yang sama, saya pun mengetahui bahwa seseorang telah membohongi saya sejak awal bertemu. Bukankah itu menyakitkan? Selama dua minggu saya tidak bergairah sama sekali, tidak mampu berkonsentrasi, nilai-nilai di sekolah pun menurun drastis, dan tidak ada nafsu makan sama sekali.
Setelah semuanya terungkap, saya beranggapan masalah saya sudah berakhir dan tetap melanjutkan kehidupan saya seperti biasa. Siapa yang menyangka bahwa pada akhirnya saya tidak memilih Fakultas Seni Rupa & Desain yang lebih sesuai kemampuan saya, tetapi saya memilih untuk memelajari psikologi. Kurang lebih empat tahun sejak kondisi terpuruk itu, saya memilih judul skripsi yang berkaitan dengan trauma dan saya mengikuti seminar mengenai penyembuhan luka batin di sebuah gereja. Luka batin yang dimaksud adalah trauma. Dalam seminar ini, kami diajarkan untuk bermeditasi aktif dengan pendekatan religius.
Entah mengapa, saat diminta membayangkan kembali perasaan sakit yang terdahulu, dada benar-benar terasa sesak. Bahkan air mata pun tidak dapat ditahan lagi. Setelah itu, kami diminta membayangkan adanya Tuhan yang mendengarkan setiap keluh kesah kita. Pada saat itu, seluruh ruangan dipenuhi suara-suara orang yang menangis, sebagian besar dari kami menangis. Namun, setelah membuka mata, saya pun merasa lebih lega dan beranggapan masalah saya sudah benar-benar tuntas.
Beberapa lama kemudian, saya mengalami konflik besar dengan teman. Saat saya hanya sendirian di dalam kamar saya memikirkan bagaimana mungkin orang yang mengenal saya sejak SMA dapat menyakiti saya seperti itu dengan menyalahkan saya? Setiap disalahkan, perasaan marah saya selalu memuncak sampai saat itu. Hal ini baru saya sadari setelah empat tahun ketika saya terpuruk. Saat itu saya meninjau kembali kehidupan saya sejak saat itu sampai konflik dengan teman. Akhirnya saya menyadari adanya situasi berulang-ulang yang sama persis dengan situasi pada saat dulu saya disalahkan. Seringkali saya disalahkan oleh ayah saya, kemudian saya yang menyalahkan orang lain, atau saya menjadi saksi pada saat orang lain disalahkan. Semuanya memicu perasaan marah dalam diri saya.
Setelah saya belajar psikologi selama tiga tahun saya baru dapat memahami masalah dalam diri saya. Waktu yang cukup lama bukan? Saya pun meminta maaf kepada teman saya. Dia bertanya kepada saya, kalau memang saya trauma akibat masa lalu itu, bagaimana mungkin saya masuk Fakultas Psikologi. Saya terdiam. Tanpa disadari, saya pun meneteskan air mata kembali. Saya kembali bertanya-tanya, bagaimana mungkin hidup saya yang terpuruk itu menjadi teratur seperti ada yang merencanakan sesuatu dalam kehidupan saya dan mengarahkan saya. Saat itulah saya beranggapan Tuhan itu ada. Dia tidak pernah meninggalkan saya meskipun saya pernah menolak-Nya dan tidak menaati perintah-Nya.
 |
Cahaya yang tidak terlihat terkesan begitu kecil, tetapi cahaya ini dapat menerangi dalam kegelapan.
www.brookhavenretreat.com |
|
|
|
Di dalam kehidupan yang kelam pun akhirnya muncul setitik cahaya kecil yang tidak pernah terlihat (hidden light). Cahaya itu yang menuntun saya perlahan-lahan, menerangi setiap jalan yang saya pilih. Cahaya ini tidak selalu terlihat, seringkali tidak disadari. Ketika cahaya semacam ini terlihat, itu berarti sebuah keajaiban telah terjadi. Sebelum Tuhan kembali membimbing saya di jalan-Nya, Ia "menghancurkan" saya terlebih dahulu. Ia membangun saya kembali menjadi lebih baik dari sebelumnya, sesuai kehendak-Nya. Saya pun tidak menyangka kesempatan untuk bertobat itu datang pada tahun berikutnya. Setelah saya bertanya kepada seorang teman, "Menurut lu kalo gue mulai ke gereja gimana?" Ia menyambut dengan suka cita, bahkan mengajak saya ke tempatnya beribadah.
Setelah beberapa kali ke gereja, ternyata ada acara di gereja dan mereka dalam kondisi kekurangan panitia. Saya pun memutuskan untuk membantu mereka, karena saya pernah ada dalam posisi yang sulit seperti itu. Keputusan saya itu ternyata membuat saya pindah dari salah satu cabang gereja ke gereja pusat. Sejak saat itu, mereka meminta bantuan saya, dimulai dari menjaga anak-anak selama pameran perpustakaan. Itu adalah hari pertama saya di gereja pusat. Pada hari itu juga saya bertemu seorang pembina guru Sekolah Minggu yang dikatakan jarang dijumpai saat kebaktian di malam hari. Ternyata Tuhan kembali menunjukkan kemana saya harus berjalan. Melalui pembina ini, saya menemukan jalan untuk memutuskan menjadi Kristen. Ia juga meminta saya mengikuti sebuah seminar mengenai pendidikan untuk anak berisiko.
Tepat satu hari sebelum seminar, teman yang mengajak saya pergi ke gereja menghadapi situasi tidak terduga. Situasi itu membuat ia memberitahu pihak gereja bahwa saya menggantikannya sebelum saya mengatakan "iya." Ternyata itu adalah pelatihan guru Sekolah Minggu, benar-benar saya salah alamat.... Saya satu-satunya orang yang belum menjadi Kristen dan bukan guru Sekolah Minggu di dalam ruangan itu. Bahkan saya harus praktik mengajar seolah-olah saya adalah guru Sekolah Minggu. Hal yang lebih mengherankan lagi, setelah pelatihan ini saya diminta untuk masuk ke kelas salah seorang guru Sekolah Minggu. Apakah ini jalan berikutnya yang ditunjukkan Tuhan kepada saya?
Saya bukan orang yang pandai menjalin relasi dengan anak-anak dalam kelompok besar pada waktu yang bersamaan. Entah mengapa, saat di ruangan itu ternyata saya dapat membuat anak yang tidak mau mendengarkan menjadi mau mendengarkan. Saya pernah membaca sebuah renungan bahwa pada saat kita berada dalam kondisi terbatas, di sanalah mujizat akan menjadi nyata. Sama persis seperti ketika pertama kali saya menyadari adanya Tuhan. Kehidupan saya yang terpuruk pun mengalami banyak perubahan sampai era yang sekarang. Satu per satu mujizat itu mulai terlihat dan jalan yang sebelumnya tidak terlihat menjadi terlihat. Berjalan dengan memegang kepercayaan saja tidaklah mudah, tetapi itulah yang menuntun saya untuk menyaksikan mujizat-mujizat yang diperlihatkan-Nya.
Jika pada saat itu Tuhan tidak membuat saya menyadari semuanya, mungkin hati saya sudah tertutup selamanya. Akibatnya, saya akan tetap terbelenggu masa lalu dan tidak menemukan jalan yang benar, serta mengalami konflik yang sama berkali-kali. Saya ingin kembali mengucapkan terima kasih kepada Tuhan yang telah menunjukkan sebagian dari rencana-Nya pada saat itu. Saat dibentuk oleh-Nya mungkin terasa sangat tidak nyaman. Mungkin kita terus mengeluh dan meragukan diri sendiri. Dalam keterbatasanlah, kuasa-Nya menjadi sempurna. Setiap rencana yang dibuat-Nya untuk kita akan selalu ada persiapan bagi kita, persiapan yang diperlukan kita untuk memenuhi kehendak-Nya. Saat itulah keindahan rencana-Nya akan terlihat dan terasa dalam kehidupan kita.