Coba bayangkan seseorang yang pemalu di tengah kelompok yang tidak dikenalnya sama sekali... Beberapa di antara anggota-anggota kelompok yang menatapnya sedikit kurang bersahabat. Di dalam pikiran mereka, "Nih orang kenapa sih? Ngomong aja ah.. eh.. ah.. eh.. terus pake manggut-manggut senyum-senyum dikit segala, sok kenal..." Melihat orang-orang yang bersikap seperti itu, ia justru menghindar dan menarik diri dari kelompok tersebut. Apa yang ada dalam pikiran si pemalu ini? Apa yang ia rasakan?
Memang mudah melihat atau membicarakan keburukan orang lain berdasarkan pandangan kita, tetapi sulit bagi kita untuk melihat kelebihannya. Itu berarti kita belum sepenuhnya peka terhadap orang lain, kita hanya mengenalnya dari keburukannya saja dan bukan kelebihannya. Sama artinya kita belum menerimanya sebagai manusia yang memiliki kelebihan dan kekurangan. Apakah adil jika kita "menghakimi" seseorang dengan standar yang kita miliki? Apakah kita pernah bertanya kepada diri sendiri mengenai apa yang menjadi kelebihan/kekurangan kita?
Umumnya, saat kita diminta menuliskan kelebihan/kekurangan kita sebanyak mungkin akan terjadi satu hal yang unik. Apakah itu??? Mungkin beberapa di antara Anda dapat menebaknya dengan tepat. Jawabannya, kekurangan jauh lebih banyak dari kelebihan, benarkah demikian? Beberapa orang juga dapat menuliskan banyak kelebihan dan sedikit kekurangan. Yang manakah yang dapat dikatakan sebagai pribadi yang sudah menerima dirinya dari kelebihan/kekurangannya?
![]() |
Melalui tugas sederhana tersebut kita dapat melihat sebuah kecenderungan untuk melihat diri sendiri. Hal ini pun mungkin berhubungan dengan cara kita memandang orang lain. Orang yang belum menyadari kelemahannya sendiri cenderung memandang dirinya itu hebat. Akibatnya, ketika ia melihat orang lain, ia cenderung mencari keburukan-keburukannya. Tidak semua orang seperti ini, ini hanya merupakan salah satu kecenderungan yang ada.
Mengendalikan pikiran yang cenderung negatif tidak semudah membalikkan tangan. Apalagi jika kecenderungan ini sudah menjadi kebiasaan, tentunya lebih sulit untuk dikendalikan. Umumnya saat membaca panduan berpikir positif, kita diminta untuk mengeliminasi pikiran-pikiran negatif. Ada pula yang menyarankan untuk mengatasinya dengan berpikir lebih jernih. Banyak sekali panduan-panduan yang dapat ditemukan, tetapi satu cara belum tentu berlaku bagi semua orang. Lalu, apa yang dapat kita lakukan agar kita tidak mudah terbawa pikiran/perasaan untuk menghakimi orang lain?
Sebelum mengatakan orang lain memiliki kekurangan, kita memiliki pilihan untuk menanyakan kepada diri sendiri pertanyaan yang sama. Jika memang jawabannya kita sendiri juga memiliki kekurangan, artinya itu adalah hal yang lazim. Ketika kita mau menerima kekurangan kita di balik kelebihan-kelebihan yang ada, apakah kita bersedia menerima orang lain yang memiliki kekurangan/kelebihan? Mereka tidak berbeda dari kita sendiri, mereka dan kita sama-sama tidak sempurna. Tidak ada orang yang hanya memiliki kelebihan saja tanpa kekurangan. Pernahkah Anda bertanya mengapa kekurangan itu ada?
Apakah Anda menyadari dengan adanya kekurangan kita dapat melihat kelebihan orang lain yang tidak kita miliki? Hal itu juga berlaku bagi kelebihan yang kita miliki. Kelebihan kita mungkin dapat melengkapi sesuatu yang tidak dimiliki orang lain. Setiap dari kita dapat saling melengkapi, sehingga tidak ada di antara kita yang hanya memiliki kekurangan tanpa kelebihan. Kekurangan dapat terlihat dalam kelebihan, tetapi dalam kekurangan kita dapat melihat kelebihan itu sendiri. Bukankah itu indah jika kita dapat mensyukurinya?
“You couldn't relive your life, skipping the awful parts, without losing what made it worthwhile. You had to accept it as a whole--like the world, or the person you loved.”

No comments:
Post a Comment