"Apa yang paling membuat kamu bahagia?" adalah sebuah pertanyaan yang umum. Kalau kita bertanya pada seorang siswa, mungkin kita akan menemukan jawaban "nilai bagus." Setelah kita melihat lebih dalam kehidupan siswa bersangkutan, ada sebuah hal yang dapat membuat kita paham bagaimana itu terjadi. Ada di antara para siswa yang dididik dengan prestasi akademik sebagai penekanannya. Seringkali pergaulan mereka dibatasi. Mereka dilarang keluar rumah bersama teman-temannya atau bermain, tetapi orangtua hanya menampilkan ekspresi senang ketika anaknya belajar sesuai dengan perintahnya.
Sekadar bersenang-senang tidak masalah, orangtua berperan dalam mengatur waktu si anak. "Mengatur waktu" bukan berarti orangtua harus membuat jadwal yang harus diikuti oleh anaknya, misalnya...
Pk. 7.00-13.00: belajar di sekolah
Pk 13.30 harus tiba di rumah
Pk 13.30-14.00: makan siang
Pk. 14.00-18.00 les
dan seterusnya....
Jika si anak bermain sepulang sekolah, ia dimarahi dan harus menuruti perintah orangtuanya untuk belajar. Orangtua memang menginginkan yang terbaik bagi anaknya, tetapi kadang-kadang ada orangtua yang belum menaruh perhatian lebih pada kebutuhan emosional anak dengan memberinya waktu untuk melakukan kesukaannya.
![]() |
Bahkan ada sebuah kasus, seorang anak benar-benar dibatasi dalam hal permainan. Dia sama sekali tidak boleh bermain game. Menurut orangtuanya, bermain game tidak baik, karena anak akan melupakan waktu belajar. Pertanyaannya, aapakah bermain sama sekali tidak bermanfaat dan belajar adalah satu-satunya hal yang bermanfaat?
Melalui sebuah permainan, seorang anak dapat mengembangkan aspek-aspek lain yang belum tentu didapat dari belajar di sekolah/kursus. Di sekolah ia belajar untuk menambah pengetahuan. Akan tetapi, dengan bermain ia dapat memelajari hal yang berbeda. Contohnya, dalam permainan tertentu ada masalah yang harus diselesaikan agar pemain dapat melanjutkan ke level berikutnya. Dalam permainan ini, si anak akan menerapkan cara menyelesaikan masalah melalui permainan. Dalam kehidupan nyata, kemampuan ini sangat diperlukan, terutama jika si anak beranjak dewasa dan harus mandiri.
Terdapat pula tipe permainan yang memerlukan kerja sama agar tujuan dalam permainan itu tercapai. Si anak tidak hanya mengandalkan dirinya sendiri, tetapi ia belajar percaya dan mengandalkan orang lain. Anak-anak lainnya pun juga belajar hal yang sama. Dengan bekerja sama dalam permainan seperti ini, si anak dapat mengembangkan keterampilan bekerja sama. Di dalam kemampuan ini sudah termasuk kemampuan memimpin dan mengikuti orang lain. Apakah permainan itu buruk?
![]() |
Permainan akan terkesan buruk jika pemain tidak dapat mengendalikan hasratnya untuk terus bermain, Contoh yang dapat kita temukan adalah "kecanduan main game." Game yang dimaksud dapat berupa permainan seperti play station, komputer, game boy, dan lain-lain. Tidak hanya game, ada pula anak yang dikatakan "gila bola." Konotasi "kecanduan" berarti sudah melebihi batas kewajaran, sehingga akan mengganggu aktivitas lainnya. Si anak hanya ingat untuk bermain, tetapi dia lupa belajar, lupa melaksanakan tanggung jawab di rumah, dan sebagainya. Hal inilah yang seharusnya diperhatikan orangtua dalam mendidik anak, terutama membatasi proporsi waktu bermainnya tetapi tidak berlebihan.
Sekarang kita lihat sedikit lebih jauh perkembangan psikososial anak yang selalu dibatasi pergaulan dan permainannya.... Ketika si anak bertemu dengan teman-temannya, ia hanya dapat melihat anak-anak lain berkumpul dalam kelompok membicarakan permainan saat jam istirahat. Anak-anak itu tidak hanya bekerja sama dalam bermain, tetapi saat diminta membentuk kelompok untuk mengerjakan tugas, mereka dapat bekerja kelompok dnegan baik. Si anak pun mencoba mendekati anak-anak ini. Hal-hal yang dapat ia bicarakan hanya pelajaran, ia tidak dapat membicarakan mengenai permainan, Nilai-nilai yang tertanam dalam keluarganya adalah pentingnya prestasi akademik, sehingga ia tidak menganggap permainan itu penting. Apa yang terjadi jika si anak berinteraksi dengan kelompok anak tersebut?
Kelompok tersebut justru merasa terganggu dengan kehadiran si anak. Si anak bingung mengapa hanya dia yang tidak dapat bergaul di dalam kelas. Setiap ia mendekati seorang teman, dia tidak dapat membina hubungan yang dekat. Anak-anak lain bersenang-senang, tetapi dia menyendiri di kelas. Perpustakaan menjadi sahabat yang menemaninya di waktu istirahat. Bukan karena dia suka membaca buku, tetapi dia tidak tahu apa yang harus ia lakukan selama waktu istirahat jika tidak ada tugas yang dapat dikerjakan.
![]() |
Anak-anak lain mendeksripsikan si anak sebagai orang yang pintar, sangat serius dalam belajar. Mereka hanya mendekati si anak jika memerlukan bantuan dalam pelajaran. Sayangnya, orangtua si anak tidak memerbolehkannya membantu anak lain. Orangtua si anak jusru menyuruhnya memikirkan diri sendiri dan prestasi akademiknya. Dengan membantu orang lain, prestasinya akan menurun, sehingga lebih baik dia belajar sendiri, itulah yang dipikirkan ornagtuanya. Setelah itu, dia sama sekali tidak pernah benar-benar tersenyum karena kebahagiaan dalam hatinya.
Dia hanya beranggapan menuruti orangtuanya dan meraih prestasi yang baik adalah hal yang menyenangkan. Akibatnya, ia tidak pernah menikmati masa kecilnya dan dia sama sekali tidak menyadari masalah ini dalam dirinya. Selain itu, sampai ia beranjak dewasa kemampuannya dalam menjalin hubungan tetap seperti itu karena dia hanya memikirkan prestasi, prestasi, dan prestasi. Orangtuanya pun semakin bangga kepadanya, tetapi tidak mengetahui perasaan si anak yang terluka sejak kecil.
Si anak tidak pernah mengalami indahnya persahabatan. Dia hanya dapat berharap seseorang mau mendekatinya dan berteman dengannya, karena dia tidak mampu mendekati orang lain. Masalah tersebut tidak akan tuntas jika si anak tidak menyadari apa yang telah terjadi kepada dirinya sejak kecil. Luka batin memang menyakitkan, tetapi seperti luka pada umumnya. Sebuah luka akan sembuh jika dibirkan terbuka dan diobati.
Setelah ia menyadari perasaannya yang terluka, mungkin dia akan terdiam sementara, Dia terdiam karena dia kembali merasakan pengalaman sebelumnya. Alangkah baiknya jika ia dapat mengekspresikan perasaan-perasaannya yang terluka dan sudah lama terpendam. Selanjutnya, ia akan kembali tersenyum perlahan-lahan jika ia bersedia untuk mulai berbaur dengan teman-temannya.

The antidote for fifty enemies is one friend.
~Aristotle~



No comments:
Post a Comment