Begitu banyak hal yang kita miliki.
Kita memiliki napas hidup, kita memiliki pikiran, dan perasaan.
Kita memiliki keluarga dan teman-teman yang sayang kepada kita.
Kita pun memiliki harta, berupa uang, benda-benda berharga, dan lain-lain.
Katakan, yang mana yang paling berharga di antara semua itu?
Andaikan, kita sedang menggali tanah dan cangkul kita terbentur pada sesuatu. Ternyata sesuatu itu adalah sebuah peti. Ketika kita membukanya, kita menemukan banyak emas dan permata yang indah di dalamnya. Ditambah lagi, pemilik lahan itu tidak tahu sama sekali adanya HARTA tersebut ada di lahannya. Kita adalah orang pertama yang menemukan adanya HARTA itu, sementara harga lahan itu sama sekali tidak sebanding dengan harga HARTA itu. Bersediakah kita menjual segala kepunyaan kita demi mendapatkan HARTA itu?
Tidak ada yang mengetahui adanya HARTA tersebut. Tidak ada yang pernah melihat wujud HARTA itu. Ketika kita melihat HARTA itu, hati kita berubah, kita ingin sekali memilikinya. Jika seandainya HARTA tetap tidak terlihat, maukah kita memilikinya?
Bersediakah kita menukar segala yang kita miliki hanya untuk harta itu?
Pernahkah kita berpikir, siapa yang memberikan hidup ini? Bagaimana rejeki dapat begitu saja datang kepada kita? Pernahkah kita terbayang mengapa kita memiliki sebuah bidang keahlian atau profesi dan bukan bidang atau profesi lain? Pernahkah kita bertanya, mengapa dunia itu ada dan kita berada di dunia ini memiliki begitu banyak hal?
Siapa yang berperan dalam hidup ini?
Ya, mungkin Anda sudah menerka jawabannya, Dialah Tuhan. Dia memberi kita segalanya hanya karena Dia mengasihi kita. Dia rela berkorban, hanya demi kita, orang-orang yang terus membuat-Nya bersedih. Jika kita menjadi Dia, maukah kita mengasihi seseorang yang telah menyakiti kita? Ia memang tidak menyukai segala kesalahan yang kita lakukan kepada-Nya, tetapi dia menyayangi kita dan menerima kita, terlepas kita berasal dari etnis mana, dari negara mana, baik muda, maupun yang lebih dewasa. Ia mengasihi kita.
Ia memang tidak dapat kita lihat, tetapi Ia ada. Bayangkan, saat kita bertengkar dengan orang lain, rasanya benar-benar tidak ingin bertemu dengannya lagi. Kita memang mengatakan itu kepada diri kita, tetapi pada akhirnya hubungan kita dengannya pulih. Ada dorongan dari dalam hati kita dan teman kita untuk memaafkan dan bersedia memulihkan relasi. Ada bisikan dalam hati kita untuk memaafkan orang itu. Ada bisikan dalam hati kita untuk melihat kembali, apakah kita juga bersalah kepada dia. Itulah keajaiban yang sedang terjadi. Darimanakah pikiran dan dorongan ini datang? Darimanakah sisi kebaikan yang ada dalam diri kita?
Kebaikan yang ada di dalam kita berasal dari Dia. Dialah yang mengingatkan ketika kita bersalah. Dia berduka atas kesalahan kita, tetapi Dia ingin kita bangkit dan mengoreksi diri sendiri. Itu hanyalah salah satu harta yang Ia berikan. Masih ada banyak harta lainnya yang selalu Ia berikan dalam kehidupan kita sehari-hari. Kasih-Nya tulus, Ia tidak meminta apapun dari kita, Ia hanya meminta kita percaya kepada-Nya. Ia rindu kita berpaling kepadanya dan kembali menerimanya dalam hati kita yang terdalam.
Dialah HARTA yang terpendam dalam hati kita. HARTA itu akan nyata ketika kita mau melihat ke dalam hati dan menerimanya. Ia adalah sumber segala berkat. Ia tidak seperti harta-harta di dunia ini yang hanya bernilai materi. Ia memiliki kasih yang tidak dapat diukur kedalamannya. Hanya karena kasih, kita berada di sini sekarang pada detik ini. Ketika kita menyadari bahwa Ia ada, perasaan kagum akan keindahan-Nya tidak lagi dapat dilukiskan dengan kata-kata.
Mulut kita berhenti mengucapkan kata-kata, mata kita tidak berkedip, dan seolah-olah jantung kita berhenti pada detik itu, tetapi kita masih menyaksikan Dia. Tanpa kata-kata yang terucap, setetes air mata yang bening menetes saat menyaksikan keindahan-Nya yang tidak terucapkan. Tidak perlu takut kita mengalami kesusahan karena menerima Dia, karena Dia yang akan memimpin kita untuk keluar dari kesusahan itu. Meskipun kita tersakiti karena kita memilih Dia dan meninggalkan segalanya, Dia yang memulihkan kita. Tidak perlu cemas jika dunia menolak kita, karena Dia yang menciptakan dunialah yang menerima kita. Dia rindu akan kedatangan kita mengadap kepada-Nya untuk mengakui segala kesalahan dan menerima-Nya, karena Ia mengasihi kita dan Dialah HARTA terpendam itu sendiri.
Hal Kerajaan Sorga itu seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamkannya lagi. Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu.
(Mat 13: 44)
Kasih yang terindah
Hati yang mulia
Hanya kutemukan di dalam-Mu, Yesusku
Pujian dari hatiku selalu di setiap waktuku
Tiada pernah berubah, kasihku...
Karya terbesar dalam hidupku
Pengorbanan-Mu yang slamatkanku
Engkaulah harta yang tak ternilai
Yang kumiliki dan kuhargai
Yesus, Engkau kukagumi....
~Karya Terbesar~
Hal apa yang paling berharga dalam hidup ini?
Hal apa yang paling berharga dalam hidup ini?
