Wednesday, 24 June 2015

Janji Kepada Diri Sendiri

"Saya komitmen mau berubah jadi lebih baik", "Saya komitmen berolahraga setiap hari", "Saya komitmen tidak memakan makanan berkolestrol secara berlebihan", dan lain-lain. Apapun komitmennya, seringkali hanya komitmen di awal dan berakhir di tengah, bukan di akhir. Ibaratnya, tidak lagi berkomitmen di tengah perjuangan mewujudkan komitmen itu sendiri. Alasan yang muncul, entah sulit menjalankan komitmennya, "sekali-sekali tidak apa-apa," dan faktor-faktor lain. Komitmen yang dilanggar dapat kita jumpai dalam kasus apapun, baik kasus sederhana maupun kasus yang besar.

Berbagai macam alasan keluar dari pernyataan seseorang yang komitmennya menghilang tiba-tiba. Contohnya, "Iya, kalo di tempat X kan lebih dekat, jadi bisa lebih konsisten bekerja." Padahal, sebelumnya ia menanyakan dimana tempat kerja yang terbaik. Secara logika, jika memang yang ia datangi adalah yang terbaik dan ia selalu menginginkan yang terbaik, masalah jarak bukan sesuatu yang dikhawatirkan bukan? Bagaimanakah komitmennya untuk berubah menjadi lebih baik? Contoh lainnya adalah komitmen tahun baru. Masih ingat dengan ungkapan "resolusi di tahun baru" bukan? Awalnya, keinginan mewujudkan keinginannya sangat besar, di tengah jalan komitmennya menghilang entah kemana.

www.adpushup.com
Komitmen yang tidak benar-benar kuat terjadi karena berbagai faktor. Faktor pertama, tujuan yang tidak realistis, entah terlalu banyak atau tujuan terlalu tinggi. Dengan tujuan seperti ini, belum tentu tujuan dan kemampuan seseorang selaras. Misalnya ingin mendapatkan nilai 100, tetapi belajar 1 menit sudah pusing dan berencana ingin belajar minimal 4 jam setiap hari NONSTOP. Realistis? Ketidakselarasan tujuan dan kemampuan seseorang akan menimbulkan rasa frustrasi yang mengarah pada keinginan seseorang untuk menyerah. Dengan kata lain, berhenti berkomitmen. Semakin besar kesenjangan tujuan dan kemampuan, semakin besar pula rasa frustrasi, semakin besar kemungkinan menyerah.

www.sillycats.net
Faktor kedua, pengendalian diri. Teman-teman yang berpuasa tentu sudah memahami istilah ini, karena dalam bulan puasa seseorang belajar untuk berusaha mengendalikan hasrat-hasrat dalam dirinya untuk menjadi orang yang lebih baik. Beberapa orang mudah sekali "tergoda" dengan apa yang dilihat, didengar, maupun dirasakan. Misalnya, saat sedang belajar, merasa bosan, lalu melihat komputer. Yang ada di pikirannya, "Enak juga ya kalau main game dulu... sebentar saja...." Ketika bermain, "Ah tanggung, dikit lagi deh, ini juga baru sebentar (kenyataannya sudah 2 jam)." Satu jam kemudian, "Ah masih mumet, main lagi...." Malam harinya.... 1 halaman dari buku pelajaran pun belum selesai dipelajari. Pertanyaannya, dimana komitmen untuk belajar? Hahaha...

www.balleralert.com
Faktor ketiga, "mengikuti arus."  Kita ambil satu contoh, "saya berkomitmen mau berubah jadi lebih baik." Terdapat sebuah kemungkinan bahwa seseorang memiliki keinginan yang banyak untuk mencoba berbagai cara. Ia pun "mengikuti arus," setiap ada rekomendasi dari seseorang terus saja diikutinya. Kita juga menjumpai saat ia menjalani satu alternatif, ia berpindah ke alternatif lain sebelum ia menjalani alternatif pertama sampai selesai. Dalam dunia psikologi atau dunia kedokteran, hal ini adalah umum. Seseorang pergi ke psikolog/dokter pertama untuk keperluan pemeriksaan, lalu ia tiba-tiba menghilang sebelum psikolog/dokter menjelaskan masalahnya. Ada pula seseorang yang tidak konsisten menghadiri tiap sesi atau tiba-tiba menghilang di tengah sesi terapi.

Faktor-faktor yang diungkapkan di sini hanya 3 faktor, masih ada faktor-faktor lainnya. Hal terpenting yang perlu diingat adalah untuk memikirkan kembali apakah tujuan yang kita miliki cukup realistis untuk dicapai atau tidak. Usaha lainnya adalah berusaha mengendalikan diri terhadap apa yang dialami, tetap berpegang pada komitmen. Daripada mengikuti arus saja, lebih baik 1 alternatif, tetapi dijalani sampai akhir, sehingga kita dapat mengevaluasi apakah alternatif itu efektif. Setelah satu alternatif selesai, baru pindah ke alternatif lainnya. Terakhir, lakukan seleksi terhadap alternatif-alternatif yang ada untuk menentukan mana yang paling efektif.

Monday, 15 June 2015

Sebuah Keyakinan

"Kalau percaya, Anda pasti bisa!" Seringkali ungkapan ini terungkap saat kita membaca buku yang berkaitan dengan motivasi. Dalam seminar-seminar motivasi, ungkapan tersebut juga seringkali disebutkan. Jika berpikir secara harafiah, bagaimana mungkin kita hanya percaya, tiba-tiba situasi berubah seperti yang kita inginkan? Namun, perlu diperhatikan lebih lanjut, seberapa besar keyakinan itu, seberapa kuat, dan sampai berapa lama keyakinan itu bertahan untuk melihat apakah ada dampak dari keyakinan itu atau tidak.

Hanya memiliki keyakinan tanpa melakukan sesuatu tentu tidak membuahkan hasil. Ibaratnya, kita hanya memiliki harapan, tetapi tidak berusaha "menuntut" yang kita inginkan dengan sebuah usaha.  Ada kalanya juga, seseorang terus mengatakan dirinya "tidak mampu," lalu ia mendapatkan prestasi yang buruk dan benar-benar tidak mampu. Contohnya, ia mengatakan tidak mampu mendapat prestasi yang baik, ternyata banyak sekali pembenaran yang harus dilakukan dalam kinerjanya. Pikiran tersebut bukan hanya sebuah pikiran yang terlintas saat itu saja. Namun, pikiran itu sudah menjadi "keyakinan" yang melekat pada orang tersebut. Ia sudah berpikir tidak mampu sejak lama, sehingga pikiran ini menjadi keyakinan karena ia seringkali mendapat prestasi yang buruk. Selanjutnya, ia tidak berusaha secara maksimal karena memiliki keyakinan ia akan tetap gagal meskipun berusaha keras.

Dari kasus yang kita bahas sebelumnya, terlihat bahwa keyakinan menimbulkan dampak dalam bentuk yang dapat kita lihat, yaitu performa. Sayangnya, banyak di antara kita yang masih memiliki keyakinan buruk mengenai diri sendiri. Sebuah keyakinan semakin kuat dengan adanya bukti-bukti yang dapat kita lihat secara kasat mata yang sesuai dengan keyakinan itu. Tidaklah mustahil jika kita ingin mengubah keyakinan menjadi lebih baik. Berikut ini adalah contohnya...

Keyakinan: "Saya tidak memiliki kemampuan yang cukup untuk belajar bidang X (contoh)"

T: Apa yang membuat Anda berpikir demikian?
J: Saya sering mendapat nilai yang buruk dalam mata kuliah A, B, C, D, dst.

T: Seberapa buruk nilai Anda?
J: Saya tidak pernah mencapai nilai A.

T: Apakah nilai B adalah nilai yang buruk?
J: Tidak juga sih.... tapi... lebih bagus nilai A.

T: Seberapa sering Anda belajar untuk mendapat nilai A?
J Malam hari sebelum ujian. Soalnya saya lebih gampang nyerap materi semalam sebelumnya.

T: Buktinya Anda tidak mendapat A?
J: Iya sih....

Dari sepenggal dialog di atas, seorang mahasiswa memiliki keyakinan bahwa ia tidak mampu dalam bidang X. Setelah ditelusuri, rupanya ia hanya belajar di malam hari sebelum ujian,

Sistem Kebut Semalam (SKS), AYO! NGAKU! 

Siapa yang sering seperti ini? Hahaha..

Pada kenyataannya, usaha mahasiswa ini tidak membuahkan hasil seperti ekspektasinya. Artinya, terdapat kesenjangan antara ekspektasi dan usahanya selama ini. Ekspektasinya terlalu tinggi, usahanya terlalu minim. Hal ini terus terulang, sehingga ia merasa tidak berdaya dalam bidang tersebut. Dalam kondisi itu, keyakinan ia tidak mampu semakin kuat.

Sebenarnya, ia dapat diajak untuk mengeksplorasi solusi untuk masalah ini. Misalnya, melakukan persiapan di hari-hari sebelumnya dengan memberi tanda pada buku teks, melengkapi catatan, dan membaca sekilas. Jika terdapat peningkatan prestasi, meskipun tidak terlalu signifikan, tetap merupakan sebuah kemajuan. Apa progres ini artinya benar-benar tidak mampu? Jika terus dilakukan, keyakinan negatif akan dirinya sendiri akan berubah menjadi lebih positif, karena tidak ada lagi bukti bahwa ia tidak mampu. Dengan demikian, ia tidak lagi beranggapan tidak mampu, tetapi mampu.

Keyakinan baru tersebut memiliki proses yang sama dengan keyakinan lama, hanya sedikit berbeda. Keyakinan itu membuat seseorang akan terus mencoba meskipun gagal. Sedangkan keyakinan sebelumnya membuat seseorang merasa tidak berdaya dan berhenti berusaha. Dua hal yang berbeda bukan? Mana yang menjadi pilihan Anda?