"Saya komitmen mau berubah jadi lebih baik", "Saya komitmen berolahraga setiap hari", "Saya komitmen tidak memakan makanan berkolestrol secara berlebihan", dan lain-lain. Apapun komitmennya, seringkali hanya komitmen di awal dan berakhir di tengah, bukan di akhir. Ibaratnya, tidak lagi berkomitmen di tengah perjuangan mewujudkan komitmen itu sendiri. Alasan yang muncul, entah sulit menjalankan komitmennya, "sekali-sekali tidak apa-apa," dan faktor-faktor lain. Komitmen yang dilanggar dapat kita jumpai dalam kasus apapun, baik kasus sederhana maupun kasus yang besar.
Berbagai macam alasan keluar dari pernyataan seseorang yang komitmennya menghilang tiba-tiba. Contohnya, "Iya, kalo di tempat X kan lebih dekat, jadi bisa lebih konsisten bekerja." Padahal, sebelumnya ia menanyakan dimana tempat kerja yang terbaik. Secara logika, jika memang yang ia datangi adalah yang terbaik dan ia selalu menginginkan yang terbaik, masalah jarak bukan sesuatu yang dikhawatirkan bukan? Bagaimanakah komitmennya untuk berubah menjadi lebih baik? Contoh lainnya adalah komitmen tahun baru. Masih ingat dengan ungkapan "resolusi di tahun baru" bukan? Awalnya, keinginan mewujudkan keinginannya sangat besar, di tengah jalan komitmennya menghilang entah kemana.
![]() |
Komitmen yang tidak benar-benar kuat terjadi karena berbagai faktor. Faktor pertama, tujuan yang tidak realistis, entah terlalu banyak atau tujuan terlalu tinggi. Dengan tujuan seperti ini, belum tentu tujuan dan kemampuan seseorang selaras. Misalnya ingin mendapatkan nilai 100, tetapi belajar 1 menit sudah pusing dan berencana ingin belajar minimal 4 jam setiap hari NONSTOP. Realistis? Ketidakselarasan tujuan dan kemampuan seseorang akan menimbulkan rasa frustrasi yang mengarah pada keinginan seseorang untuk menyerah. Dengan kata lain, berhenti berkomitmen. Semakin besar kesenjangan tujuan dan kemampuan, semakin besar pula rasa frustrasi, semakin besar kemungkinan menyerah.
![]() |
Faktor kedua, pengendalian diri. Teman-teman yang berpuasa tentu sudah memahami istilah ini, karena dalam bulan puasa seseorang belajar untuk berusaha mengendalikan hasrat-hasrat dalam dirinya untuk menjadi orang yang lebih baik. Beberapa orang mudah sekali "tergoda" dengan apa yang dilihat, didengar, maupun dirasakan. Misalnya, saat sedang belajar, merasa bosan, lalu melihat komputer. Yang ada di pikirannya, "Enak juga ya kalau main game dulu... sebentar saja...." Ketika bermain, "Ah tanggung, dikit lagi deh, ini juga baru sebentar (kenyataannya sudah 2 jam)." Satu jam kemudian, "Ah masih mumet, main lagi...." Malam harinya.... 1 halaman dari buku pelajaran pun belum selesai dipelajari. Pertanyaannya, dimana komitmen untuk belajar? Hahaha...
Faktor ketiga, "mengikuti arus." Kita ambil satu contoh, "saya berkomitmen mau berubah jadi lebih baik." Terdapat sebuah kemungkinan bahwa seseorang memiliki keinginan yang banyak untuk mencoba berbagai cara. Ia pun "mengikuti arus," setiap ada rekomendasi dari seseorang terus saja diikutinya. Kita juga menjumpai saat ia menjalani satu alternatif, ia berpindah ke alternatif lain sebelum ia menjalani alternatif pertama sampai selesai. Dalam dunia psikologi atau dunia kedokteran, hal ini adalah umum. Seseorang pergi ke psikolog/dokter pertama untuk keperluan pemeriksaan, lalu ia tiba-tiba menghilang sebelum psikolog/dokter menjelaskan masalahnya. Ada pula seseorang yang tidak konsisten menghadiri tiap sesi atau tiba-tiba menghilang di tengah sesi terapi.
Faktor-faktor yang diungkapkan di sini hanya 3 faktor, masih ada faktor-faktor lainnya. Hal terpenting yang perlu diingat adalah untuk memikirkan kembali apakah tujuan yang kita miliki cukup realistis untuk dicapai atau tidak. Usaha lainnya adalah berusaha mengendalikan diri terhadap apa yang dialami, tetap berpegang pada komitmen. Daripada mengikuti arus saja, lebih baik 1 alternatif, tetapi dijalani sampai akhir, sehingga kita dapat mengevaluasi apakah alternatif itu efektif. Setelah satu alternatif selesai, baru pindah ke alternatif lainnya. Terakhir, lakukan seleksi terhadap alternatif-alternatif yang ada untuk menentukan mana yang paling efektif.


