"Kalau percaya, Anda pasti bisa!" Seringkali ungkapan ini terungkap saat kita membaca buku yang berkaitan dengan motivasi. Dalam seminar-seminar motivasi, ungkapan tersebut juga seringkali disebutkan. Jika berpikir secara harafiah, bagaimana mungkin kita hanya percaya, tiba-tiba situasi berubah seperti yang kita inginkan? Namun, perlu diperhatikan lebih lanjut, seberapa besar keyakinan itu, seberapa kuat, dan sampai berapa lama keyakinan itu bertahan untuk melihat apakah ada dampak dari keyakinan itu atau tidak.
Hanya memiliki keyakinan tanpa melakukan sesuatu tentu tidak membuahkan hasil. Ibaratnya, kita hanya memiliki harapan, tetapi tidak berusaha "menuntut" yang kita inginkan dengan sebuah usaha. Ada kalanya juga, seseorang terus mengatakan dirinya "tidak mampu," lalu ia mendapatkan prestasi yang buruk dan benar-benar tidak mampu. Contohnya, ia mengatakan tidak mampu mendapat prestasi yang baik, ternyata banyak sekali pembenaran yang harus dilakukan dalam kinerjanya. Pikiran tersebut bukan hanya sebuah pikiran yang terlintas saat itu saja. Namun, pikiran itu sudah menjadi "keyakinan" yang melekat pada orang tersebut. Ia sudah berpikir tidak mampu sejak lama, sehingga pikiran ini menjadi keyakinan karena ia seringkali mendapat prestasi yang buruk. Selanjutnya, ia tidak berusaha secara maksimal karena memiliki keyakinan ia akan tetap gagal meskipun berusaha keras.
Dari kasus yang kita bahas sebelumnya, terlihat bahwa keyakinan menimbulkan dampak dalam bentuk yang dapat kita lihat, yaitu performa. Sayangnya, banyak di antara kita yang masih memiliki keyakinan buruk mengenai diri sendiri. Sebuah keyakinan semakin kuat dengan adanya bukti-bukti yang dapat kita lihat secara kasat mata yang sesuai dengan keyakinan itu. Tidaklah mustahil jika kita ingin mengubah keyakinan menjadi lebih baik. Berikut ini adalah contohnya...
Keyakinan: "Saya tidak memiliki kemampuan yang cukup untuk belajar bidang X (contoh)"
T: Apa yang membuat Anda berpikir demikian?
J: Saya sering mendapat nilai yang buruk dalam mata kuliah A, B, C, D, dst.
T: Seberapa buruk nilai Anda?
J: Saya tidak pernah mencapai nilai A.
T: Apakah nilai B adalah nilai yang buruk?
J: Tidak juga sih.... tapi... lebih bagus nilai A.
T: Seberapa sering Anda belajar untuk mendapat nilai A?
J Malam hari sebelum ujian. Soalnya saya lebih gampang nyerap materi semalam sebelumnya.
T: Buktinya Anda tidak mendapat A?
J: Iya sih....
Dari sepenggal dialog di atas, seorang mahasiswa memiliki keyakinan bahwa ia tidak mampu dalam bidang X. Setelah ditelusuri, rupanya ia hanya belajar di malam hari sebelum ujian,
Sistem Kebut Semalam (SKS), AYO! NGAKU!
Siapa yang sering seperti ini? Hahaha..
Sebenarnya, ia dapat diajak untuk mengeksplorasi solusi untuk masalah ini. Misalnya, melakukan persiapan di hari-hari sebelumnya dengan memberi tanda pada buku teks, melengkapi catatan, dan membaca sekilas. Jika terdapat peningkatan prestasi, meskipun tidak terlalu signifikan, tetap merupakan sebuah kemajuan. Apa progres ini artinya benar-benar tidak mampu? Jika terus dilakukan, keyakinan negatif akan dirinya sendiri akan berubah menjadi lebih positif, karena tidak ada lagi bukti bahwa ia tidak mampu. Dengan demikian, ia tidak lagi beranggapan tidak mampu, tetapi mampu.
Keyakinan baru tersebut memiliki proses yang sama dengan keyakinan lama, hanya sedikit berbeda. Keyakinan itu membuat seseorang akan terus mencoba meskipun gagal. Sedangkan keyakinan sebelumnya membuat seseorang merasa tidak berdaya dan berhenti berusaha. Dua hal yang berbeda bukan? Mana yang menjadi pilihan Anda?

No comments:
Post a Comment