Monday, 10 August 2015

Menari di Tengah Hujan

www.ibnlive.com

Ketika turun hujan saat kita ingin berpergian, tentu hujan dianggap sebagai sesuatu yang menyebalkan. Fakta yang unik dalam budaya orang Chinese, hujan pun dianggap sebagai "turunnya rejeki." Seringkali menjelang imlek atau tepat pada hari imlek, hujan turun. Bagi orang Chinese hujan di hari imlek di satu sisi rejeki tetapi ada juga yang beranggapan hujan itu menyebalkan. Apakah benar, hujan itu selalu identik dengan kata "menyebalkan?" Bagaimana jika hujan turun di musim kemarau ketika seluruh tanah begitu kering, cuaca begitu panas, rasanya enggan untuk keluar rumah? Menyebalkankah?

Terdapat sebuah ungkapan menarik saat saya membaca renungan harian, "menari di tengah hujan." Jika dibayangkan, seseorang yang menari identik dengan ekspresi senyum, perasaan bahagia. Ketika ia menari, orang lain pun terpukau dan dapat merasakan pula kebahagiaan yang ia rasakan. Tidakkah Anda penasaran apa yang membuat "hujan" dapat melukiskan senyuman di wajah seseorang yang . Maksudnya bukan tarian pemanggil hujan tentunya.... ha3

"Menari di tengah hujan" memiliki arti "mensyukuri segala sesuatu yang terjadi." Mungkin saja pada masa sekarang kita belum dapat melihat adanya sisi positif dari kejadian yang tidak kita sukai. Contohnya, mendapat nilai buruk saat kuliah, gagal saat bekerja, memiliki masalah dalam relasi, dan lain-lain. Tentunya hal-hal ini tidaklah menyenangkan UNTUK SAAT INI. Sekarang kita memiliki masalah, tetapi kita tidak tahu apakah masalah serupa akan muncul di masa depan atau tidak. Jika seandainya muncul masalah yang hampir sama atau masalah serupa, kita mengetahui apa yang harus dilakukan untuk mengatasi/mencegahnya. Tidak selamanya buruk bukan?

www.wallpaperup.com
Cobalah perhatikan, apakah masalah yang sekarang kita alami merupakan akhir dari segalanya dan tidak ada jalan keluar? Sebuah jalan keluar tidak akan muncul jika kita tidak dapat mengendalikan diri. Selama tidak dapat mengendalikan diri, perasaan kita tidak tenang. Apapun yang kita pikirkan tidak akan matang, karena terpengaruh emosi. Selama tidak terkendali, kita tidak mengambil keputusan dengan pertimbangan yang matang, sehingga kita hanya langsung mencari kesimpulan. Akibatnya, kita tidak menemukan jalan keluar dan memandang masalah sebagai "menyebalkan."

Seringkali masalah yang terjadi tidak berdampak pada semua aspek kehidupan kita. Misalnya kita merasa kesal karena sebuah kegagalan. kita terus saja sibuk memikirkan masalah itu, padahal kegagalan itu dapat diperbaiki. kegagalan adalah sesuatu yang tidak menyenangkan. Akan tetapi, kita mendapatkan pelajaran dari kegagalan untuk meraih keberhasilan di masa depan. Jadi, jangan pernah beranggapan bahwa kita akan selalu gagal. Kita memang tidak dapat mengubah masa lalu, tetapi kita dapat mengubah masa depan. Masa depan ada di tangan kita sendiri. 

www.hdwallpaperscool.com
"Hujan" tidak selalu mendatangkan ketidakbahagiaan bukan? Buktinya, hujan membawa air untuk mendatangkan kehidupan. Bayangkan jika hujan tidak turun, tumbuhan tidak akan pernah muncul dan makhluk hidup akan dilanda kekeringan. Pada kenyataannya banyak hal yang dapat kita peroleh saat "dihujani" masalah-masalah dalam kehidupan. Masalah-masalah itu ibarat "air hujan" yang akan mendatangkan kebahagiaan di masa depan. Dari sesuatu yang tidak menyenangkan, kita dapat menemukan sesuatu yang lebih berharga. Hanya saja, diperlukan kesabaran dalam menemukannya dan menerima segala yang terjadi dengan sebuah senyuman.

30secondance.com



Belajar dari Siput

Setelah ibadah hari Minggu dan membaca renungan hari Senin, ternyata keduanya memiliki pembahasan yang hampir sama. Keduanya berkaitan dengan tema "ketekunan." Ya, tentu saja, orang yang memiliki ketekunan cukup "langka" pada masa ini. Bahkan, orang-orang rajin pun ada kalanya bermalas-malasan. Namun, dalam kedua bahasan yang saya renungkan, setiap orang dapat bangkit kembali dari kemalasannya, tergantung apa pilihannya dan seberapa kuat komitmennya. Ada sebuah hal yang menarik dalam salah satu pembahasannya, yaitu analogi mengenai seekor siput. Umumnya, hewan yang dianalogikan sebagai pembelajaran adalah semut untuk kerajinan dan anjing untuk loyalitas. Ternyata, ada hal yang dapat diteladani juga dari seekor siput. Meskipun lambat, ia gigih untuk mencapai tujuannya.

spongebob.wikia.com

Siput termasuk sebagai hewan yang bergerak dengan lambat. Ia harus berjalan ke sana dan ke mari untuk mendapatkan makanannya. Siput adalah hewan yang bertubuh lunak (mollusca) dan memiliki kerangka di luar tubuhnya, yaitu tempurung. Bagi kita tempurung itu ringan, tetapi bagi seekor siput kecil, tempurung itu cukup berat bagi tubuhnya yang lunak dan mungil. Meskipun demikian, ia tetap membawanya kemanapun selama mencari makanan. Kesulitan-kesulitan selama perjalanan jauh ditempuh dengan lambat, ini bukanlah hal yang mudah, Ia harus memanjat pohon, menemukan daun yang ia inginkan, dan kembali pulang setelah makan. Selain itu, ia selalu membawa tempurungnya yang berat, sungguh berat perjalanannya.

Kita bukanlah siput, kita memang tidak memiliki tempurung dan tidak berjalan dengan lambat. Namun, kitalah yang membuat diri kita semakin lambat. Kita senantiasa bermalas-malasan.... Menunda mengerjakan tugas... cenderung mencari cara yang instan untuk menyelesaikan persoalan.. Ada pula di antara kita yang mengatakan "tidak mood," sehingga pekerjaan ditelantarkan. Hal-hal inilah yang menjadi "tempurung" bagi kita. "Tempurung" ini akan terasa berat setiap kita memikirkannya. Kitalah yang memilih untuk berada di bawah tempurung itu dengan tidak bergerak, sehingga tidak merasa terlalu berat. Jika perlu, mengandalkan bantuan orang lain adalah solusi yang sangat disukai.

Dengan demikian, kita kalah dengan kegigihan seekor siput yang terus berjalan menanggung segala kesulitan yang dihadapi tanpa mengeluh. Hanya masalah kecil sudah cukup untuk membuat kita jera dan berhenti mencoba. Bagaimana dengan masalah yang lebih besar? Apakah kita akan mengatasinya atau melarikan diri? Kita memiliki pilihan untuk menempuh jalan yang sulit untuk menyelesaikan masalah dan membiarkan masalah itu terjadi tanpa upaya mengatasinya (cara termudah), mana yang menjadi pilihan kita?


coolvibe.com
Agar sesuatu yang baik dapat kita peroleh, kita perlu mengorbankan energi untuk mencapainya. Tentu saja proses ini tidaklah instan, keberhasilan tidak datang dengan sendirinya. Kitalah yang harus mengejar keberhasilan itu. Berkali-kali jatuh bangun adalah proses. Dengan keberhasilan di masa lalu, kita akan semakin percaya diri. Dengan kegagalan di masa lalu, kita belajar dari kesalahan untuk berusaha kembali. Baik keberhasilan, maupun kegagalan, keduanya adalah pengalaman dan pengalaman adalah guru yang terbaik. Kuncinya adalah tetap gigih seperti seekor siput yang selalu berusaha meskipun mengalami banyak tekanan. Sekarang, pilihannya ada di tangan kita, ingin berada di bawah tempurung atau berusaha bergerak meskipun dibatasi oleh tempurung?

Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu   itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang,  supaya kamu menjadi sempurna   dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun.

(Yak 1: 2-4)