![]() |
Ketika turun hujan saat kita ingin berpergian, tentu hujan dianggap sebagai sesuatu yang menyebalkan. Fakta yang unik dalam budaya orang Chinese, hujan pun dianggap sebagai "turunnya rejeki." Seringkali menjelang imlek atau tepat pada hari imlek, hujan turun. Bagi orang Chinese hujan di hari imlek di satu sisi rejeki tetapi ada juga yang beranggapan hujan itu menyebalkan. Apakah benar, hujan itu selalu identik dengan kata "menyebalkan?" Bagaimana jika hujan turun di musim kemarau ketika seluruh tanah begitu kering, cuaca begitu panas, rasanya enggan untuk keluar rumah? Menyebalkankah?
Terdapat sebuah ungkapan menarik saat saya membaca renungan harian, "menari di tengah hujan." Jika dibayangkan, seseorang yang menari identik dengan ekspresi senyum, perasaan bahagia. Ketika ia menari, orang lain pun terpukau dan dapat merasakan pula kebahagiaan yang ia rasakan. Tidakkah Anda penasaran apa yang membuat "hujan" dapat melukiskan senyuman di wajah seseorang yang . Maksudnya bukan tarian pemanggil hujan tentunya.... ha3
"Menari di tengah hujan" memiliki arti "mensyukuri segala sesuatu yang terjadi." Mungkin saja pada masa sekarang kita belum dapat melihat adanya sisi positif dari kejadian yang tidak kita sukai. Contohnya, mendapat nilai buruk saat kuliah, gagal saat bekerja, memiliki masalah dalam relasi, dan lain-lain. Tentunya hal-hal ini tidaklah menyenangkan UNTUK SAAT INI. Sekarang kita memiliki masalah, tetapi kita tidak tahu apakah masalah serupa akan muncul di masa depan atau tidak. Jika seandainya muncul masalah yang hampir sama atau masalah serupa, kita mengetahui apa yang harus dilakukan untuk mengatasi/mencegahnya. Tidak selamanya buruk bukan?
Cobalah perhatikan, apakah masalah yang sekarang kita alami merupakan akhir dari segalanya dan tidak ada jalan keluar? Sebuah jalan keluar tidak akan muncul jika kita tidak dapat mengendalikan diri. Selama tidak dapat mengendalikan diri, perasaan kita tidak tenang. Apapun yang kita pikirkan tidak akan matang, karena terpengaruh emosi. Selama tidak terkendali, kita tidak mengambil keputusan dengan pertimbangan yang matang, sehingga kita hanya langsung mencari kesimpulan. Akibatnya, kita tidak menemukan jalan keluar dan memandang masalah sebagai "menyebalkan."
Seringkali masalah yang terjadi tidak berdampak pada semua aspek kehidupan kita. Misalnya kita merasa kesal karena sebuah kegagalan. kita terus saja sibuk memikirkan masalah itu, padahal kegagalan itu dapat diperbaiki. kegagalan adalah sesuatu yang tidak menyenangkan. Akan tetapi, kita mendapatkan pelajaran dari kegagalan untuk meraih keberhasilan di masa depan. Jadi, jangan pernah beranggapan bahwa kita akan selalu gagal. Kita memang tidak dapat mengubah masa lalu, tetapi kita dapat mengubah masa depan. Masa depan ada di tangan kita sendiri.
![]() |



