Monday, 10 August 2015

Belajar dari Siput

Setelah ibadah hari Minggu dan membaca renungan hari Senin, ternyata keduanya memiliki pembahasan yang hampir sama. Keduanya berkaitan dengan tema "ketekunan." Ya, tentu saja, orang yang memiliki ketekunan cukup "langka" pada masa ini. Bahkan, orang-orang rajin pun ada kalanya bermalas-malasan. Namun, dalam kedua bahasan yang saya renungkan, setiap orang dapat bangkit kembali dari kemalasannya, tergantung apa pilihannya dan seberapa kuat komitmennya. Ada sebuah hal yang menarik dalam salah satu pembahasannya, yaitu analogi mengenai seekor siput. Umumnya, hewan yang dianalogikan sebagai pembelajaran adalah semut untuk kerajinan dan anjing untuk loyalitas. Ternyata, ada hal yang dapat diteladani juga dari seekor siput. Meskipun lambat, ia gigih untuk mencapai tujuannya.

spongebob.wikia.com

Siput termasuk sebagai hewan yang bergerak dengan lambat. Ia harus berjalan ke sana dan ke mari untuk mendapatkan makanannya. Siput adalah hewan yang bertubuh lunak (mollusca) dan memiliki kerangka di luar tubuhnya, yaitu tempurung. Bagi kita tempurung itu ringan, tetapi bagi seekor siput kecil, tempurung itu cukup berat bagi tubuhnya yang lunak dan mungil. Meskipun demikian, ia tetap membawanya kemanapun selama mencari makanan. Kesulitan-kesulitan selama perjalanan jauh ditempuh dengan lambat, ini bukanlah hal yang mudah, Ia harus memanjat pohon, menemukan daun yang ia inginkan, dan kembali pulang setelah makan. Selain itu, ia selalu membawa tempurungnya yang berat, sungguh berat perjalanannya.

Kita bukanlah siput, kita memang tidak memiliki tempurung dan tidak berjalan dengan lambat. Namun, kitalah yang membuat diri kita semakin lambat. Kita senantiasa bermalas-malasan.... Menunda mengerjakan tugas... cenderung mencari cara yang instan untuk menyelesaikan persoalan.. Ada pula di antara kita yang mengatakan "tidak mood," sehingga pekerjaan ditelantarkan. Hal-hal inilah yang menjadi "tempurung" bagi kita. "Tempurung" ini akan terasa berat setiap kita memikirkannya. Kitalah yang memilih untuk berada di bawah tempurung itu dengan tidak bergerak, sehingga tidak merasa terlalu berat. Jika perlu, mengandalkan bantuan orang lain adalah solusi yang sangat disukai.

Dengan demikian, kita kalah dengan kegigihan seekor siput yang terus berjalan menanggung segala kesulitan yang dihadapi tanpa mengeluh. Hanya masalah kecil sudah cukup untuk membuat kita jera dan berhenti mencoba. Bagaimana dengan masalah yang lebih besar? Apakah kita akan mengatasinya atau melarikan diri? Kita memiliki pilihan untuk menempuh jalan yang sulit untuk menyelesaikan masalah dan membiarkan masalah itu terjadi tanpa upaya mengatasinya (cara termudah), mana yang menjadi pilihan kita?


coolvibe.com
Agar sesuatu yang baik dapat kita peroleh, kita perlu mengorbankan energi untuk mencapainya. Tentu saja proses ini tidaklah instan, keberhasilan tidak datang dengan sendirinya. Kitalah yang harus mengejar keberhasilan itu. Berkali-kali jatuh bangun adalah proses. Dengan keberhasilan di masa lalu, kita akan semakin percaya diri. Dengan kegagalan di masa lalu, kita belajar dari kesalahan untuk berusaha kembali. Baik keberhasilan, maupun kegagalan, keduanya adalah pengalaman dan pengalaman adalah guru yang terbaik. Kuncinya adalah tetap gigih seperti seekor siput yang selalu berusaha meskipun mengalami banyak tekanan. Sekarang, pilihannya ada di tangan kita, ingin berada di bawah tempurung atau berusaha bergerak meskipun dibatasi oleh tempurung?

Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu   itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang,  supaya kamu menjadi sempurna   dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun.

(Yak 1: 2-4)

No comments:

Post a Comment