Monday, 20 October 2014

Pengharapan

Setiap masalah yang kita hadapi dalam kehidupan tidak akan pernah berhenti. Satu masalah selesai, masalah lain akan muncul. Masalah yang kita hadapi terkadang ringan, terkadang berat, atau justru semakin berat. Di antara kita tentu ada yang menyerah dan melarikan diri dari masalahnya, ada pula yang terus berjuang mengatasinya. Tidak jarang sebuah masalah menimbulkan konflik dalam diri kita.

Bayangkan, dari jauh-jauh hari kita sudah merencanakan sesuatu, tiba-tiba ada kejadian tidak terduga dan tidak dapat kita tinggalkan (misalnya ada anggota keluarga yang harus dirawat di rumah sakit pada hari itu) yang mengharuskan kita mengubah rencana. Jika kita membatalkan rencana kita, mungkin ada pihak-pihak lain yang terlibat, berpotensi menimbulkan masalah baru. Jika kita terus menjalankan rencana kita, mungkin akan mendatangkan penyesalan.

Kita tidak tahu kemana kita harus berjalan dan apa yang harus kita perbuat. Berjalan di tempat pun bukan sebuah solusi, karena keduanya tidak akan mendatangkan penyesalan yang jauh lebih besar. Kita pun tidak dapat membalikkan waktu, kita hanya berjalan dalam waktu yang sekarang dan tidak dapat mengubah masa lalu. Bayangkan, apa yang Anda rasakan dalam situasi demikian? Anda tidak dapat melangkah maju ataupun mundur kembali dan tidak tahu apa tujuan Anda.

Berdoalah kepada Tuhan untuk memohon agar Ia berkenan membukakan jalan kepada kita. Ia tidak akan meninggalkan kita. Mata-Nya selalu menyaksikan kehidupan kita, telinga-Nya selalu mendengar teriakan hati kita. Dari luar kita tampak baik-baik saja, tetapi hati kita benar-benar rapuh. Hati kita terus berteriak meminta pertolongan. Orang lain tidak mengetahui hal ini, tetapi Tuhan mengetahuinya, karena tidak ada yang dapat kita sembunyikan dari-Nya.

Ia selalu rindu untuk mendengarkan kita. Ia tidak membiarkan kita bergumul sendiri, Ia ingin kita bergumul bersama-Nya dan menyerahkan semua masalah ke dalam tangan-Nya, bersekutu dengan-Nya. Ia mungkin tidak akan membuat masalah itu menjadi lebih mudah diatasi, tetapi ia memberikan kita sesuatu agar kita dapat terus berjalan dan tidak putus asa, sebuah pengharapan.

Ibarat sebuah jalan yang penuh kerikil, Anggaplah kerikil-kerikil ini sebagai masalah-masalah dalam hidup kita yang tidak terhitung jumlahnya. Jangankan berjalan maju, mundur pun tetap kerikil yang kita jumpai. Berjalan ke kanan dan ke kiri pun sama seperti itu. Tuhan menunggu kita di ujung jalan, Ia menantikan kita untuk datang kepada-Nya. Ia tidak hanya diam menyaksikan kita dalam kesulitan, Ia terus memberikan kita semangat untuk bangkit dan kembali berjalan.

Seandainya kita terjatuh, Ia tidak hanya diam. Ia berada di depan kita untuk menopang kita dan Ia kembali menyaksikan perjuangan kita untuk berjalan sampai akhir, sampai kita berhasil sampai ke ujung jalan yang penuh masalah. Meskipun jumlah batu kerikil itu sangat banyak, kasih setia Tuhan melebihi itu semua dan tidak tergantikan. 

Misalkan kita menemukan batu yang sangat besar yang mustahil untuk dilewati, jangan lupakan bahwa Tuhan berkuasa atas segalanya. Tetaplah berpegang pada pengharapan kepada-Nya dan saksikan apa yang terjadi berikutnya. Kita tidak perlu berpikir apa yang akan terjadi selanjutnya atau bagaimana Tuhan menolong kita, percayalah Ia sudah menyiapkan semuanya.

Sesuatu yang dipersiapkan oleh-Nya tidak mungkin dapat kita bayangkan, mungkin melebihi akal sehat kita. Anda juga tidak mengira jika pada saat batu besar di hadapan Anda saat ini adalah waktunya batu itu akan hancur seketika bukan? Ingatlah, segala sesuatu yang mustahil bagi kita adalah sangat mungkin bagi-Nya.

request.org.uk

Monday, 13 October 2014

Bersandar kepada Tuhan

Seorang teman mengatakan ia sedang berada dalam masalah selama melakukan penelitian skripsi. Dosen pembimbing memberikannya kesempatan untuk bekerja secara mandiri, karena yakin dengan kemampuannya. Namun, ia sendiri tidak yakin dengan kemampuannya. Ia terus mencari bantuan dari teman-teman lainnya, sebab ia ingin penelitiannya berhasil.

Pada suatu saat, ia tidak mengetahui langkah yang harus dilakukannya sebelum benar-benar terjun ke lapangan. Ia tidak mengetahui apa yang harus dipersiapkan, apa yang harus dikerjakan, dan apa yang harus diperbaiki. Kekhawatiran pun muncul. Ia tertekan, namun ia menyadari satu hal.

Dalam hatinya ia berkata, "dalam ketidakberdayaan ia akan semakin ingin mengandalkan Tuhan dalam pergumulannya."

Dalam sukacita, kita cenderung menikmati segala berkat, bahkan setiap saat kita terus meminta pemberkatan dari Tuhan. Terkadang, berlimpahnya berkat membuat kita lupa Siapa yang memberikannya kepada kita. Apa yang terjadi saat kita berada dalam kondisi terpuruk? Kita menyalahkan Tuhan. Kita menyesali nasib kita sendiri. Kita kehilangan pemikiran positif bahwa penderitaan itu belum tentu terjadi selamanya, karena suatu saat Ialah yang akan membebaskan kita dan tidak akan terlambat menyelamatkan kita.

www.mhyelearning.com
Apapun yang kita minta kepada-Nya dalam nama-Nya, tentu akan diberikan. Namun, Ia pun ingin menguji kesetiaan kita kepada-Nya melalui seberapa tekun kita berdoa. Ia mengetahui setiap rancangan yang ada pada-Nya dan mengetahui kapan waktu terbaik mengabulkan permintaan kita. 





Terkadang, kita beranggapan Ia tidak mengabulkan keinginan kita....
Kita meragukan-Nya.

Kita adalah manusia yang tidak mengetahui rancangan-Nya. Mungkin saja, ada hal lain yang Ia persiapkan bagi kita yang jauh lebih baik dari apa yang kita minta. Misalnya, saat teman kita ini mengalami kesulitan mengerjakan skripsi. Seakan-akan tidak ada yang dapat dilakukannya saat ini, mungkin ini adalah saatnya ia belajar mengandalkan kemampuan yang Tuhan berikan kepadanya. Tuhan ingin ia percaya pada kemampuannya dan tidak meragukan pemberian-Nya. Apa yang diberikan-Nya kepada kita, tentu adalah yang terbaik.

www.lovethispic.com

Saturday, 4 October 2014

Menjadi Penolong

Hal pertama yang terbayang ketika ada seorang penolong adalah hilangnya kesukaran seseorang. Umumnya orang tersebut akan merasa bahagia jika bertemu seorang penolong. Sebuah pertolongan juga mungkin tidak membuat seseorang tidak bahagia. Ia mengatakan bahwa dirinya sudah cukup bahagia dan tidak memerlukan pertolongan, sebuah pertolongan disalahartikan. Dari luar ia terkesan baik-baik saja, padahal dia rapuh dari dalam. Dirinya terus meminta pertolongan secara tidak sadar, tetapi dia tidak menyadarinya. Apa yang sebaiknya kita lakukan?

Selain itu, ada pula orang yang mengatakan menolong sama dengan tidak cerdas. "Lebih baik memikirkan diri sendiri dan tidak perlu memikirkan orang lain," itulah yang ada dalam benaknya. Kita memiliki kehidupan yang berlimpah hanya untuk diri sendiri dan tidak untuk orang lain, apakah itu kebahagiaan sesungguhnya? Ia tidak mengingat bahwa dia juga selalu mengharapkan pertolongan dalam kesulitan. Bagaimana jika orang lain mengatakan menolong itu tidak cerdas dan tidak membantunya?

Hanya memikirkan kepentingan sendiri tentu tidak disukai orang lain. Kita memang hidup bukan untuk disukai orang lain, tetapi kita adalah makhluk sosial. Kita tidak hidup sendiri, kita hidup bersama-sama dengan orang lain. Bukankah lebih baik kita berhubungan baik dengan orang lain, sehingga kita dapat saling membantu dalam kekurangan?

Bayangkan jika hanya kita saja yang berlimpah, tetapi orang lain tidak. Kita sama sekali tidak membantu mereka, justru membangun "tembok" untuk menjaga jarak dari mereka. Sama artinya dengan kita menutup diri kita dari orang lain. Jika ternyata posisinya berubah, kita yang paling tidak berkelimpahan, apakah mereka akan senang hati membantu kita yang telah menolak mereka?

www.coveringmedia.com

Belajar dari seekor anjing penuntun penyandang tuna netra:
Dia selalu menuntun majikannya kemanapun ia pergi.
Tidak sedikit anjing yang menghabiskan hidupnya di jalanan tanpa ada yang merawat dan memeliharanya.
Anjing penuntun ini justru tidak dibuang, ia semakin disayang dan terus dipelihara.
Jasanya dihargai oleh keluarga yang mengadopsinya.

Siapa bilang membantu orang lain itu tidak cerdas? Belajar menempatkan diri dalam posisi orang lain dan membantunya juga menjadi benih dalam hidup kita. Secara tidak sadar, kita sudah menanamkan benih dalam kepribadian kita. Semakin banyak kita lakukan, semakin kita berkembang. Semakin kita berkembang semakin baik pula kepribadian kita dan semakin banyak orang yang ingin menjadi sahabat kita.

Terkadang ada orang yang tidak ingin ditolong, tetapi hatinya pun akan luluh jika kita konsisten berbuat baik. Kita tidak harus berbuat sesuatu baginya. Namun, kita dapat berbuat baik kepada orang-orang selain dirinya terlebih dahulu. Ia akan melihat keinginan menolong yang muncul dalam bentuk nyata, setiap perkataan dan perbuatan kita. Hati yang keras akan melunak dan menampilkan hati yang sebanarnya terluka. Pada saat itulah kita dapat menolongnya. Menolong tidak berarti kita menjadi miskin, tetapi kita menjadi semakin berlimpah, tidak ada yang merugikan. Saling memberi dan saling menerima, bukankah itu indah?



“I can't surround myself with people who are hiding their pain beneath swagger and a grin.”