Tuesday, 25 November 2014

Pentingnya Kasih dalam Mendidik Anak

Kasih dapat dipersepsikan dengan berbagai macam cara. Ada yang menganggap kasih adalah perasaan mencintai seseorang. Ada pula yang memandang kasih sama dengan hal-hal yang bersifat materialistik. Jika kita melihat ke lingkungan sekitar kita, apakah kita akan merasakan kasih dalam lingkungan tersebut? Mungkin ya, mungkin tidak. Pada saat kita tidak dapat merasakan kasih dalam sebuah lingkungan, kemungkinan orang-orang dalam lingkungan tersebut memang kurang mampu mengekspresikan kasih secara tepat.

Pertanyaannya, dengan mengungkapkan, "Saya mengasihi kamu," "Saya mencintai kamu," dan "Saya sayang kamu." apakah kata-kata manis ini sudah benar-benar mewakili perasaan mengasihi kita kepada orang lain? Kasih yang sebenarnya adalah kasih yang tulus, tanpa perlu diucapkan pun kasih itu dapat terasa. Perasaan nyaman saat berelasi dengan seseorang dapat menjadi salah satu faktor bahwa orang tersebut dapat mengekspresikan kasih dengan tepat.

Kurang mampunya seseorang dalam mengasihi dapat diawali dengan salah satu cara, yaitu menelusuri pengalaman masa kecilnya. Selama berada dalam keluarga, seperti apa keluarga ini mendidik anaknya sampai ia berkembang seperti sekarang, itulah yang akan menjadi salah satu faktor yang akan menentukan bagaimana si anak akan berkembang.

Seringkali kita menjumpai seorang anak dididik dengan bagitu "bagus," kesannya.... "Bagus" yang dimaksudkan adalah orangtua dapat mendidik anaknya menjadi pribadi yang sangat pintar, bahkan ia mampu memeroleh nilai sempurna dalam setiap pelajaran. Kalau kita lihat lebih dalam lagi, setiap hari si anak mengikuti berbagai kursus. Sepulang kursus, ia bahkan disuruh belajar kembali, nyaris tidak ada waktu untuk beristirahat dan bermain dengan teman-temannya.

Saat di sekolah, orangtuanya sibuk membicarakan perasaan bangga anaknya berprestasi. Mereka juga membandingkan prestasi anaknya dengan prestasi anak dari orangtua lainnya. Beberapa di antara mereka pun mencari "soal bocoran" untuk anaknya belajar. Hal yang ada di dalam benak mereka adalah PRESTASI anaknya, belajar, belajar, dan belajar. Mereka tidak terlalu menaruh perhatian pada kesejahteraan mental si anak, cenderung lebih banyak memerhatikan aspek intelektual.

Suatu hari, seorang teman sekolah meminta si anak mengajarinya. Reaksi orangtua si anak, "Ngapain kamu ngajarin dia? Mendingan kamu belajar, supaya nilai kamu bagus." Kalau ada yang memerlukan bantuan anaknya, orangtua justru mengajarkan si anak untuk tidak membantu sama sekali. Jika mereka membantu, mereka dikatakan tidak cerdas. Namun, ketika si anak tidak membantu dan lebih memikirkan diri sendiri, memilih untuk belajar, orangtuanya mengatakan, "Iya, gitu dong.... baru pinter namanya." Jika si anak menghadapi situasi serupa di kemudian hari, pilihan mana yang akan dipilihnya? Akankah ia membantu temannya? Atau dia lebih mementingkan diri sendiri?

Perilaku yang akan diperkuat adalah perilaku mementingkan diri sendiri. Akibatnya, si anak tidak mengasihi temannya sendiri. Apabila si anak juga sudah menanamkan nilai "pentingnya perestasi akademik" ia akan terus memerioritaskan itu, karena ia selalu dipuji ketika ia berprestasi. Hal yang dipikirkannya pun adalah "belajar, belajar, dan belajar," sama persis seperti yang diinginkan orangtuanya.

Si anak yang memegang nilai pentingnya prestasi ini hanya memikirkan "belajar" untuk mendapat nilai baik. Ia rela menghabiskan seluruh waktunya dalam satu hari hanya untuk belajar. Ia tidak lagi memerhatikan kondisi fisiknya dan kebutuhan emosionalnya. Ia melupakan bahwa ia adalah makhluk sosial. Saat di kelas, ia selalu bertanya dalam dirinya, "Gimana ya cara dapet 100? Gimana cara dapet A?" 

Sebelumnya, si anak belum pernah belajar mengasihi, hanya belajar untuk mendapat nilai baik. Dapatkah Anda membayangkan perilakunya saat bergaul dengan teman-temannya? Ia terlihat seperti seorang pendiam, bukan karena malu-malu. Ia kebingungan harus melakukan apa untuk memulai pembicaraan dengan orang lain. Ia mungkin pernah belajar bagaimana cara menjalin relasi, tetapi ia tidak mengerti bagaimana cara menjalinnya dengan kasih. Ia sulit menerima orang lain dengan kekurangannya, karena ia hanya mengejar kesempurnaan dalam nilai akademis dan tidak pernah belajar bertoleransi terhadap kekurangan.

www.hdwallpapers.in
Dalam pikiran seorang anak yang kurang mampu berelasi terdapat begitu banyak hal yang dipikirkan. Banyaknya hal tersebut akan menimbulkan ketidaknyamanan tersendiri dalam menempatkan diri dalam lingkungan sosial. Ia tidak tahu harus memulai pembicaraan seperti apa, bagaimana harus berperilaku, bahkan ia tidak banyak tersenyum. Ia hanya mampu menanggapi orang lain, tetapi ia kurang mampu memulai interaksi. Seakan-akan ia tampak seperti bongkahan es yang terkesan begitu dingin dan orang lain pun ragu-ragu untuk mendekatinya.

Belajar memang hal yang penting, tetapi alangkah baiknya jika kebutuhan intelektual anak diimbangi dengan kebutuhannya akan kasih. Kita sendiri selalu ingin dikasihi dan diterima lingkungan sosial, bagaimana dengan seorang anak yang masih lugu, tidak berdaya, dan belum mengenal kasih? 

Pentingkah menanamkan kasih dalam pendidikan anak oleh keluarga?

Sunday, 16 November 2014

Kisah Si Anak Tunggal

Jujur saja, saya memang seorang anak tunggal. Kalau saya bertemu dengan orang lain yang menanyakan, "Kamu berapa bersaudara?" umumnya mereka akan menampilkan ekspresi terkejut atau terpesona setelah saya mengungkapkan identitas saya sebagai anak tunggal. Pertanyaan berikutnya yang dilontarkan, "Kamu ga kepingin punya dede?" atau "Enak dong! Apa-apa diturutin sama mama papa ya?" Reaksi yang lazim bukan? 

cindylivingstoneministries.wordpress.com
Gambaran sosok anak tunggal dalam pikiran orang-orang secara umum adalah status yang diproritaskan sebagai "anak emas" dan kesepian yang dialami seorang anak. Seorang anak tunggal memang tidak memiliki saudara di rumahnya. Ia mungkin hanya tinggal bersama orangtuanya saja atau bersama keluarga besar, tetapi ia tidak memiliki saudara. Mungkin setiap keinginannya dituruti, tetapi apakah itu menjadi jaminan bahwa dia pasti merasa bahagia?
Atau
Rasa kesepian yang dialaminya adalah karena tidak bersaudara?

Faktor-faktor yang menjadi penanda seorang anak mengalami kesepian terdiri dari berbagai macam hal yang beraneka ragam. Misalnya, orangtua yang jarang berada di rumah untuk memberikan kasih sayang, tidak memiliki teman untuk berbagi cerita, tidak ada teman untu bermain, ditelantarkan, dan lain-lain. Tidak ada jaminan yang pasti untuk mengatakan seorang anak tunggal selalu mengalami kesepian. Merasa kesepian atau tidak itu tergantung dari lingkungan sosial tempatnya berada, apakah lingkungan sosialnya mampu memenuhi kebutuhannya akan kasih sayang ataukah tidak. Perasaan kesepian mungkin menjadi salah satu hal yang dapat membuat seorang anak tertekan. Selain itu, masih ada hal lainnya, yaitu kondisi pada saat si anak tunggal memainkan lebih dari satu peran dalam keluarga. 


Sebelum membaca pembahasan berikutnya, silakan Anda bayangkan situasi keluarga dengan dua orang anak:

Sebuah keluarga terdiri dari sepasang suami istri yang memiliki tiga orang anak. Profesi ayah adalah wiraswasta, ia membuka sebuah toko barang-barang kebutuhan rumah tangga. Istrinya adalah seorang ibu rumah tangga. Ia tidak hanya menjalani tugasnya sebagai seorang istri dan ibu, ia juga membantu pekerjaan suaminya di rumah, yaitu pada saat para pegawai datang ke rumah untuk mengambil persediaan barang dan menerima kiriman barang yang datang ke rumah.

Anak pertama berperan dalam membantu pekerjaan ayahnya, sama seperti peran yang dilakukan ibunya di rumah. Kesibukan lainnya, ia masih menjalankan studinya dan seringkali meninggalkan rumah untuk kerja kelompok. Anak kedua masih SMA, ia belum bekerja. Jika dibandingkan, ia lebih sering berada di rumah daripada kakaknya. Ketika salah satu anggota keluarganya sakit, ia yang lebih banyak berperan untuk membantu anggota keluarga selama dirawat.


Dalam situasi seperti di atas, sang kakak dan adik dapat berinteraksi satu sama lain dan berkoordinasi untuk membagi peran masing-masing dalam keluarga. Tidak hanya kemampuan berinteraksi dengan orang lain yang berkembang melalui interaksi antarsaudara, tetapi kemampuan bekerja dalam tim juga berkembang. Mereka dapat menggantikan peran seorang anggota keluarga yang sedang memiliki hambatan, saling melengkapi satu sama lain. Masalah yang muncul akan lebih mudah diatasi selama mereka bekerja sama.

Jika kita ubah situasinya menjadi keluarga dengan anak tunggal, dapatkah Anda membayangkan perbedaannya? Si anak harus menjalani semua peran yang dijalankan si kakak dan si adik dalam situasi pertama. Kalau ia memiliki teman dekat, tanggung jawab yang diembannya akan terasa lebih ringan karena ia dapat mencurahkan perasaannya dengan bercerita kepada temannya. Namun, tanggung jawab yang dimilikinya jauh lebih besar daripada anak-anak yang memiliki saudara dalam keluarganya.

Masalah yang dialami anak tunggal dalam keluarga tentu berbeda daripada anak lainnya, bukan? Ketika kita bertemu seorang anak tunggal, mungkin beberapa di antara mereka tidak terlalu mampu membina hubungan dengan orang lain, karena ia belum memiliki pengalaman yang cukup seperti anak yang bersaudara. Mungkin masih ada yang menganggap mereka sebagai "anak emas" karena dianggap selalu memeroleh setiap keinginannya. Namun, ada beberapa anak tunggal yang berkembang dengan cara yang berbeda. Mereka justru tidak terlalu bergantung pada orangtua dan lingkungannya. Mereka dapat berdiri dengan kakinya sendiri, karena mereka mengemban tanggung jawab yang besar dalam keluarga.

Baik anak yang bersaudara, maupun anak tunggal, keduanya sama-sama memiliki kelebihan. Tidak ada yang lebih baik atau lebih buruk, keduanya adalah sama. Setiap anak mungkin bertumbuh dan berkembang dalam periode yang sama. Namun, apa yang mereka alami juga akan menjadi faktor yang menentukan bagaimana kepribadian mereka akan berkembang. Itulah yang menjadi salah satu hal yang membuat kepribadian itu unik, karena setiap orang memiliki kepribadian yang berbeda.

Thursday, 13 November 2014

Butiran Debu yang Tidak Berarti

Terkadang kita berada dalam situasi yang seakan-akan tidak ada jalan keluar. Napas kita terasa begitu sesak. Pikiran kita tidak tenang, selalu masalah yang terbayang dalam pikiran kita. Satu masalah belum selesai kita atasi, datang pula masalah lainnya. Semakin hari semakin berat masalah yang kita hadapi. Setiap solusi yang kita lakukan sama sekali tidak mengubah keadaan. Kita merasa lemah, tidak berdaya sama sekali. Kita hanya melayang ke sana kemari bersama masalah yang kita hadapi, tanpa tujuan dan solusi yang pasti.

Kita sama seperti butiran debu yang tidak berarti. Begitu ringan, melayang ke sana kemari diterbangkan oleh angin. Kita sama sekali tidak memiliki tempat untuk berpijak, sama sekali tidak memiliki tujuan kemana kita pergi. Begitu lembut, begitu lemah. Jangankan menghancurkan batuan, menghancurkan sehelai daun pun kita tidak akan sanggup karena begitu lemahnya kita.

Masalah yang kita harapi bagaikan sebuah batu besar yang akan ditembus oleh butiran debu. Kelihatannya sangat tidak mungkin, bukan? Bagaimana mungkin debu dapat menembus batu yang begitu keras, begitu besar, dan kokoh? Kita hanya berfokus pada batu itu saja. Kitalah yang memersepsikan kita itu lemah di hadapan batu yang besar. Kita pula yang memilih untuk memersepsikan demikian, tidak ada siapapun yang menyuruh kita memandang diri kita lemah.

Meskipun batu ini begitu besar dan kokoh, ia selalu terkikis oleh angin yang begitu lembut dan lemah. Setiap hari, bagian yang terkikis itu akan semakin dalam hingga batu itu retak, bahkan hancur menjadi batuan-batuan kecil. Bukankah debu adalah sesuatu yang selalu terbawa oleh angin? Dengan demikian, bukankah debu itu dapat dikatakan dapat mengikis batu yang besar?

Sama halnya seperti masalah yang kita hadapi. Kita selalu memikirkan betapa besar masalah yang kita hadapi. Kita tidak menghargai setiap usaha yang kita kerahkan untuk mengatasi masalah. Tidak peduli seberapa besar atau seberapa kecil usaha yang kita kerahkan, itu semua adalah tetap usaha. Perlahan-lahan, sedikit demi sedikit, masalah itu akan teratasi, asalkan kita konsisten dan tetap bersabar.

Kita memang hanya butiran debu, begitu kecil dan lemah, yang terkesan tidak dapat melakukan apa-apa. Namun, kita dapat menjadi pemenang dalam setiap perkara dengan keyakinan bahwa Tuhan akan menuntun kita melewati segala perkara. Semakin sulit perkara yang kita hadapi, menandakan Tuhan ingin kita berkembang lebih daripada yang sekarang. Tetaplah bersyukur dalam setiap perkara.

"Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu" (Matius 25: 21).