Jujur saja, saya memang seorang anak tunggal. Kalau saya bertemu dengan orang lain yang menanyakan, "Kamu berapa bersaudara?" umumnya mereka akan menampilkan ekspresi terkejut atau terpesona setelah saya mengungkapkan identitas saya sebagai anak tunggal. Pertanyaan berikutnya yang dilontarkan, "Kamu ga kepingin punya dede?" atau "Enak dong! Apa-apa diturutin sama mama papa ya?" Reaksi yang lazim bukan?
![]() |
Gambaran sosok anak tunggal dalam pikiran orang-orang secara umum adalah status yang diproritaskan sebagai "anak emas" dan kesepian yang dialami seorang anak. Seorang anak tunggal memang tidak memiliki saudara di rumahnya. Ia mungkin hanya tinggal bersama orangtuanya saja atau bersama keluarga besar, tetapi ia tidak memiliki saudara. Mungkin setiap keinginannya dituruti, tetapi apakah itu menjadi jaminan bahwa dia pasti merasa bahagia?
Atau
Rasa kesepian yang dialaminya adalah karena tidak bersaudara?
Faktor-faktor yang menjadi penanda seorang anak mengalami kesepian terdiri dari berbagai macam hal yang beraneka ragam. Misalnya, orangtua yang jarang berada di rumah untuk memberikan kasih sayang, tidak memiliki teman untuk berbagi cerita, tidak ada teman untu bermain, ditelantarkan, dan lain-lain. Tidak ada jaminan yang pasti untuk mengatakan seorang anak tunggal selalu mengalami kesepian. Merasa kesepian atau tidak itu tergantung dari lingkungan sosial tempatnya berada, apakah lingkungan sosialnya mampu memenuhi kebutuhannya akan kasih sayang ataukah tidak. Perasaan kesepian mungkin menjadi salah satu hal yang dapat membuat seorang anak tertekan. Selain itu, masih ada hal lainnya, yaitu kondisi pada saat si anak tunggal memainkan lebih dari satu peran dalam keluarga.
Sebelum membaca pembahasan berikutnya, silakan Anda bayangkan situasi keluarga dengan dua orang anak:
Sebuah keluarga terdiri dari sepasang suami istri yang memiliki tiga orang anak. Profesi ayah adalah wiraswasta, ia membuka sebuah toko barang-barang kebutuhan rumah tangga. Istrinya adalah seorang ibu rumah tangga. Ia tidak hanya menjalani tugasnya sebagai seorang istri dan ibu, ia juga membantu pekerjaan suaminya di rumah, yaitu pada saat para pegawai datang ke rumah untuk mengambil persediaan barang dan menerima kiriman barang yang datang ke rumah.
Anak pertama berperan dalam membantu pekerjaan ayahnya, sama seperti peran yang dilakukan ibunya di rumah. Kesibukan lainnya, ia masih menjalankan studinya dan seringkali meninggalkan rumah untuk kerja kelompok. Anak kedua masih SMA, ia belum bekerja. Jika dibandingkan, ia lebih sering berada di rumah daripada kakaknya. Ketika salah satu anggota keluarganya sakit, ia yang lebih banyak berperan untuk membantu anggota keluarga selama dirawat.
Dalam situasi seperti di atas, sang kakak dan adik dapat berinteraksi satu sama lain dan berkoordinasi untuk membagi peran masing-masing dalam keluarga. Tidak hanya kemampuan berinteraksi dengan orang lain yang berkembang melalui interaksi antarsaudara, tetapi kemampuan bekerja dalam tim juga berkembang. Mereka dapat menggantikan peran seorang anggota keluarga yang sedang memiliki hambatan, saling melengkapi satu sama lain. Masalah yang muncul akan lebih mudah diatasi selama mereka bekerja sama.
Jika kita ubah situasinya menjadi keluarga dengan anak tunggal, dapatkah Anda membayangkan perbedaannya? Si anak harus menjalani semua peran yang dijalankan si kakak dan si adik dalam situasi pertama. Kalau ia memiliki teman dekat, tanggung jawab yang diembannya akan terasa lebih ringan karena ia dapat mencurahkan perasaannya dengan bercerita kepada temannya. Namun, tanggung jawab yang dimilikinya jauh lebih besar daripada anak-anak yang memiliki saudara dalam keluarganya.
Masalah yang dialami anak tunggal dalam keluarga tentu berbeda daripada anak lainnya, bukan? Ketika kita bertemu seorang anak tunggal, mungkin beberapa di antara mereka tidak terlalu mampu membina hubungan dengan orang lain, karena ia belum memiliki pengalaman yang cukup seperti anak yang bersaudara. Mungkin masih ada yang menganggap mereka sebagai "anak emas" karena dianggap selalu memeroleh setiap keinginannya. Namun, ada beberapa anak tunggal yang berkembang dengan cara yang berbeda. Mereka justru tidak terlalu bergantung pada orangtua dan lingkungannya. Mereka dapat berdiri dengan kakinya sendiri, karena mereka mengemban tanggung jawab yang besar dalam keluarga.
Baik anak yang bersaudara, maupun anak tunggal, keduanya sama-sama memiliki kelebihan. Tidak ada yang lebih baik atau lebih buruk, keduanya adalah sama. Setiap anak mungkin bertumbuh dan berkembang dalam periode yang sama. Namun, apa yang mereka alami juga akan menjadi faktor yang menentukan bagaimana kepribadian mereka akan berkembang. Itulah yang menjadi salah satu hal yang membuat kepribadian itu unik, karena setiap orang memiliki kepribadian yang berbeda.

No comments:
Post a Comment