Terkadang kita berada dalam situasi yang seakan-akan tidak ada jalan keluar. Napas kita terasa begitu sesak. Pikiran kita tidak tenang, selalu masalah yang terbayang dalam pikiran kita. Satu masalah belum selesai kita atasi, datang pula masalah lainnya. Semakin hari semakin berat masalah yang kita hadapi. Setiap solusi yang kita lakukan sama sekali tidak mengubah keadaan. Kita merasa lemah, tidak berdaya sama sekali. Kita hanya melayang ke sana kemari bersama masalah yang kita hadapi, tanpa tujuan dan solusi yang pasti.
Kita sama seperti butiran debu yang tidak berarti. Begitu ringan, melayang ke sana kemari diterbangkan oleh angin. Kita sama sekali tidak memiliki tempat untuk berpijak, sama sekali tidak memiliki tujuan kemana kita pergi. Begitu lembut, begitu lemah. Jangankan menghancurkan batuan, menghancurkan sehelai daun pun kita tidak akan sanggup karena begitu lemahnya kita.
Masalah yang kita harapi bagaikan sebuah batu besar yang akan ditembus oleh butiran debu. Kelihatannya sangat tidak mungkin, bukan? Bagaimana mungkin debu dapat menembus batu yang begitu keras, begitu besar, dan kokoh? Kita hanya berfokus pada batu itu saja. Kitalah yang memersepsikan kita itu lemah di hadapan batu yang besar. Kita pula yang memilih untuk memersepsikan demikian, tidak ada siapapun yang menyuruh kita memandang diri kita lemah.
Meskipun batu ini begitu besar dan kokoh, ia selalu terkikis oleh angin yang begitu lembut dan lemah. Setiap hari, bagian yang terkikis itu akan semakin dalam hingga batu itu retak, bahkan hancur menjadi batuan-batuan kecil. Bukankah debu adalah sesuatu yang selalu terbawa oleh angin? Dengan demikian, bukankah debu itu dapat dikatakan dapat mengikis batu yang besar?
Sama halnya seperti masalah yang kita hadapi. Kita selalu memikirkan betapa besar masalah yang kita hadapi. Kita tidak menghargai setiap usaha yang kita kerahkan untuk mengatasi masalah. Tidak peduli seberapa besar atau seberapa kecil usaha yang kita kerahkan, itu semua adalah tetap usaha. Perlahan-lahan, sedikit demi sedikit, masalah itu akan teratasi, asalkan kita konsisten dan tetap bersabar.
"Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu" (Matius 25: 21).
No comments:
Post a Comment