Monday, 26 January 2015

Harapan Orangtua pada Anak

Bagi siapapun yang pernah berinteraksi dengan seorang anak umumnya mereka mengetahui kira-kira yang menjadi kendala saat bersama dengan anak-anak. Anak menangis? Ingin keinginannya dituruti padahal kita belum dapat mewujudkannya? Masih banyak lagi masalah-masalahnya. Salah satu masalah yang akan kita bicarakan di sini adalah pada saat anak tidak berhasil memenuhi harapan orangtuanya. Kelihatannya memang bukan masalah yang besar, tetapi cukup berdampak pada diri si anak.

satelitnews.co
Contohnya, terkadang kita menempatkan anak-anak dalam situasi seperti keinginan kita. Umumnya, orangtua ingin sekali anaknya memeroleh prestasi gemilang dalam bidang tertentu (Nurrahman, 2014). Demi tujuan tersebut, si anak didaftarkan untuk kursus, bahkan waktu bermain si anak pun berkurang. Si anak terus menerus ditempatkan dalam situasi yang mengharuskannya untuk belajar, belajar, dan belajar untuk mencapai prestasi gemilang.

Dengan menuntut anak memenuhi keinginan orangtua yang begitu besarnya, sama halnya menganggap si anak sama dengan "orang dewasa mini." Dalam hal ini, seorang anak dianggap mampu meraih prestasi di luar kemampuannya (Sunarti, 2004). Meskipun si anak mengatakan ia tidak sanggup menjalani tanggung jawab seberat itu, orangtua demikian terus meyakinkan anaknya untuk tetap berjuang.

www.dreamstime.com
Jika si anak memang mampu memenuhi keinginan orangtuanya, memotivasi anak saat ia merasa tidak mampu adalah hal yang tepat. Dengan memotivasi anak pada situasi tersebut, ia akan belajar bahwa ia dapat menggunakan kemampuannya untuk mencapai tujuan, selama tujuan itu realistis. Misalnya, kita memberikan target nilai minimal 70 untuk memberikan hadiah kepada si anak. Kita menerapkan target nilai itu karena kita sudah melihat si anak mampu mencapai nilai 70, tetapi lebih sering mendapatkan nilai 65. Target tersebut tidak terlalu sulit (masih realistis), daripada jika kita menerapkan nilai yang lebih tinggi.

Setelah anak terbiasa dengan menerapkan target realistis dalam prestasinya, ia pun akan tumbuh menjadi pribadi yang cenderung berpikir realistis. Ketika ia membuat target baru dalam kehidupannya, ia akan memertimbangkan kemampuannya terlebih dahulu sebelum menentukan tujuannya. Tidak hanya mampu menerapkan tujuan yang realistis, si anak juga akan belajar mengenai batas kemampuan dalam dirinya sendiri. Misalkan, ia mampu mencapai nilai 70 untuk saat ini, tetapi belum mampu mencapai nilai 80. Jika ia tidak mendapatkan nilai 80, ia tidak terlalu kecewa, karena ia paham kemampuannya adalah mencapai nilai 70. Jika ingin mengarahkannya untuk mendapatkan nilai lebih baik, tentu masih memungkinkan jika kita memahami cara belajar anak tersebut dan ia memiliki kompetensi dalam bidang apa saja.

Berbeda jika si anak memang tidak mampu tetapi kita memotivasinya untuk mencapai target yang tidak realistis bagi anak tersebut. Secara tidak langsung, kita mendidik anak untuk menerapkan tujuan yang "tidak realistis" dalam kehidupannya. Misalnya, anak yang hanya mampu mencapai nilai 70 untuk saat ini diharuskan memeroleh nilai 100. Dengan usaha yang keras mungkin tujuannya akan tercapai, tetapi si anak memiliki beban tersendiri saat ia berusaha. Ia tidak ingin dimarahi orangtuanya jika tidak mendapat nilai sempurna. Akibatnya, si anak mungkin menghalalkan segala cara untuk memeroleh nilai sempurna agar ia tidak dimarahi. Selain itu, si anak terbiasa berpikir bahwa ia mampu mencapai tujuan seperti apapun, termasuk tujuan yang tidak realistis, karena ia dapat menghalalkan segala cara.

visiondevelopment.org

Ketika si anak beranjak dewasa, tentu ia memiliki tujuan tersendiri dalam kehidupannya. Akan tetapi, jika ia menetapkan tujuan yang tidak realistis dan meyakinkan dirinya mampu (sebenarnya tidak), mungkin ia mengalami frustrasi bahkan sampai pada depresi. Atau bahkan ia mencari "cara instan" untuk mencapai tujuannya. Dalam kondisi depresi ia melakukan cara instan tersebut, mungkin saja ia tidak lagi memertimbangkan apakah cara itu baik untuk dilakukan/tidak, atau bahkan merugikan dirinya sendiri.

venturebeat.com
Umumnya kita berpikir untuk membenahi seorang anak. Kita terbiasa berpikir bahwa seorang anaklah yang harus diarahkan. Terutama pada saat si anak masih berusia dini, golden age, kita tentu tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk membuat si anak bertumbuh dan berkembang sesempurna mungkin. Akan tetapi jangan lupakan bahwa seorang anak dapat bertumbuh dan berkembang jika diarahkan dengan benar. Siapa saja yang berperan dalam mengarahkan si anak? Ada berbagai pihak yang berkontribusi dalam pertumbuhan dan perkembangan anak, tetapi yang umumnya berkontribusi besar adalah kedua orangtuanya.


www.freeeducationideas.com

Keluarga adalah unit sosial terkecil dalam masyarakat (Waluya, 2007). Ayah, ibu, dan anak adalah komponen dalam keluarga inti. Pertama kalinya anak berinteraksi dengan orang lain dimulai dari keluarga. Ia berinteraksi dengan ayah dan ibunya terlebih dahulu, kemudian ia belajar berinteraksi dengan orang-orang di luar keluarganya. Jadi, pihak-pihak yang terlibat lebih banyak dalam perkembangan anak umumnya adalah keluarga. Dalam hal ini, bukan hanya anak yang harus diarahkan, tetapi orangtua juga perlu belajar bagaimana cara mengarahkan anaknya dengan benar.

Orangtua yang baik tentu memahami seperti apa kemampuan anaknya. Mereka menaruh harapan yang mereka yakini anak mampu mewujudkannya. Mereka tidak memaksakan kehendak mereka kepada anak, karena mereka paham bahwa hal tersebut tidak akan membuahkan hasil yang baik bagi anak. Tidak hanya anak yang perlu belajar, tetapi kita sebagai orang dewasa pun harus belajar agar dapat membimbing generasi yang lebih muda daripada kita.


Try to learn something about everything and everything about something -
Thomas Huxley

Referensi

Nurrahman, A. (2011). Prestasi anak atau ambisi orangtua? Diambil dari: http://www.psikologizone.com/prestasi-anak-atau-ambisi-orangtua/065112130
Sunarti, E. (2004). Mengasuh dengan hati: Tantangan yang menyenangkan. Jakarta: Elex Media Komputindo.

Waluya, B. (2007). Sosiologi: Menyelami fenomena sosial di masyarakat. Bandung: Setia Purna Inves.

No comments:

Post a Comment