Saturday, 27 September 2014

Bukan Waktunya Menyerah

Kalau ada orang yang mengatakan, "Ga bisa ya ga bisa, ga usah banyak gaya nyoba-nyoba.." mungkin beberapa di antara kita akan merasa sedikit tertekan. Mereka beranggapan ungkapan ornag tersebut adalah benar. Mereka melupakan bahwa mereka masih dapat melakukan yang terbaik meskipun mereka dalam keterbatasan.

Seseorang yang menggunakan ucapannya untuk menyakiti orang lain belum tentu dia jahat. Kita memang tidak mengetahui seperti apa masa lalunya, mungkin dia pernah mengalami kegagalan di masa lalu. Kegagalan itu yang membuatnya memersepsikan tidak perlu berusaha keras untuk menyelesaikan sesuatu. Contohnya, seorang pria mencoba melakukan salah satu pekerjaan wanita, memasak. Saat pria lain melihatnya masih belum bisa memasak, ia berkata, "Udah serahin aja ke istri, lu tungguin aja, gampang..." Si pria yang mengatakannya belum pernah berhasil membuat satu makanan pun dengan tangannya sendiri karena tidak pernah diizinkan mencoba. Kalau memang si pria ini ingin berusaha, tentu tidak ada yang salah, bukan?

Beberapa orang yang kita temui dalam kehidupan sehari-hari dapat menggunakan lidahnya untuk "menjatuhkan" mental kita. Namun, kita masih memiliki pilihan lain dalam situasi tertekan karena ucapannya.

Pilihan pertama: Mundur, tidak akan mencoba lagi.
Pilihan kedua: Tetap melakukannya sampai akhir, minimal untuk saat itu saja.

Apa pilihan Anda?

Ketika kita yakin kita akan mampu melakukannya, ada orang yang akan mendukung dan mencela kita. Dukungan dari orang lain dapat menjadi kekuatan bagi kita untuk terus maju. Kita dapat meminta saran-saran bermanfaat dari mereka untuk semakin mampu melakukan pekerjaan. Celaan seperti pedang bermata dua. Pertama, tentu kita tertekan karena celaan, tetapi kita mengetahui adanya kekurangan dalam performa kita sendiri. Kedua, celaan membuat kita tahu bahwa performa kita belum cukup baik.

waroengss.com
Jangan pernah lupakan bahwa keyakinan juga menjadi salah satu faktor yang menentukan kesuksesan. Keyakinan yang kuat akan kesuksesan akan mengarahkan perilaku kita untuk terus mencoba sampai berhasil. Keyakinan yang lemah justru akan membuat kita terpuruk. Meskipun kita memilih untuk bangkit, risiko kegagalan akan selalu ada. Hal yang perlu dilakukan adalah memikirkan cara mengatasi hambatan tersebut, bukanlah menyerah dengan semudah itu.

Seseorang yang memilih untuk mundur akan terinspirasi dengan sendirinya jika ia menyaksikan kesuksesan kita. Kata-kata yang kita ucapkan untuk mereka seakan-akan tidak sampai pada mereka. Namun, kata-kata kita mungkin akan sampai kepadanya jika disertai dengan kesuksesan kita. Itu berarti kita dapat menjadi model peran baginya, dengan kata lain kita sudah menginspirasinya untuk tidak menyerah.


Tentu saja kita tidak dapat terus menerus mengharapkan adanya oanag lain yang selalu membantu kita. Seseorang yang akan selalu ada untuk menyertai dan memampukan kita adalah Yang Maha Kuasa. Jika kita tetap berada di jalan-Nya, berbagai kesulitan dan penolakan akan kita hadapi. Dunia mungkin menolak kita, karena tidak mengenal-Nya. Namun, Ia yang akan memampukan kita dalam setiap perkara selama kita mengikut-Nya. Ia tidak akan mengatakan kita ini tidak dapat berusaha karena kita selalu gagal. Ia mengetahui standar kita dan menilai berdasarkan standar kita, sehingga Ia mengetahui kita sudah memberikan yang terbaik.

Thursday, 18 September 2014

Masalah itu Indah

Ada begitu banyak masalah dalam kehidupan. Kita pun tidak dapat menyebutnya satu per satu. Setiap hari, setiap jam, setiap menit, dan setiap detik kita selalu bersama dengan masalah. Tidak jarang pula sebuah masalah membuat kita terus memikirkannya. Berbagai konflik muncul dalam pikiran kita karena masalah tersebut. Akibatnya masalah-masalah lain pun berdatangan sebab kita terus memikirkan masalah yang sebelumnya. Selain itu, kita cenderung berpikir masalah sama dengan hal yang tidak baik, hanya mendatangkan kesulitan bagi kita, yakin???

bigeducationape.blogspot.com

Perasaan tidak berdaya adalah perasaan yang akrab dengan kita saat bermasalah. Datang tak diundang, pergi tak diantar, itulah dia. Gara-gara dia, kita mudah putus asa dan berhenti mengatasi masalah. Itu adalah keinginannya, apakah itu yang kita inginkan? Jika putus asa bukan keinginan kita, tentu saja masih ada jalan lain. Boleh saja satu kali atau dua kali kita kalah dari masalah, apa mau kita terus mengalah, mau sampai kapan?

Saat kita kalah dari perasaan tidak berdaya, itulah waktu yang tepat untuk belajar. Kita anggap saja masalah itu sebagai lawan yang harus kita kalahkan dalam sebuah permainan. Dalam sebuah permainan, kita dapat memanfaatkan berbagai macam hal untuk mengalahkan lawan kita dengan cara yang tidak curang. Di satu sisi kondisi kita memang terbatas, tidak semua hal dapat kita lakukan. Terkadang itulah yang membuat kita putus asa, kita lupa bahwa dalam keterbatasan keteguhan hati kita yang diuji.

Tentu saja Tuhan tidak mengharapkan kita terpuruk, Ia selalu menunggu kita untuk bangkit berdiri dan kembali berjuang. Mungkin kita berpikir mengapa Ia tidak membantu kita saat kita dalam kondisi sulit. Sama halnya seperti kita, Ia memiliki alasan atas tindakan-Nya. Akan tetapi, pertimbangan-Nya berdasarkan atas apa yang Ia ketahui mengenai kita dari masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang. Ia mengetahui itu semua, sedangkan kita tidak.

Saat kita berpikir kesulitan adalah sebuah ujian, itu akan lebih ringan daripada memandangnya sebagai masalah yang membuat kita terpuruk. Seperti ujian di sekolah, kita pun ingin lulus dari ujian tersebut. Tuhan ingin kita berusaha lebih keras, mengerahkan seluruh kemampuan kita. Pada akhirnya, ketika kita berhasil mengalahkan masalah itu kita pun lebih percaya diri. Kita tidak lagi beranggapan kita tidak berdaya sepenuhnya.


Kemungkinan lainnya, kita dilatih untuk bersabar. Jika kita tidak tenang, kita akan sulit berpikir jernih untuk menemukan titik terang sebuah masalah. Seringkali titik terang itu sudah kita temukan, tetapi kita belum menyadarinya. Misalnya, saat mengerjakan soal matematika, kita melewatkan satu proses perhitungan. Akibatnya kita tidak tahu bagaimana langkah berikutnya, padahal sudah ada penanda kita melupakan sesuatu.


Kita cenderung terus berpikir, "Apa yang harus dilakuin coba? Aduh... gua panik!!! Gimanaa???" Lalu kita menelpon teman-teman, yang terjadi kita yang dimarahi karena tidak sengaja melampiaskan perasaan, masalah baru... 

Menurut Anda, bagaimana jika kita melakukan refleksi? Kita ingat-ingat lagi dari awal sebelum masalah terjadi sampai masa kini. Apakah ada perbedaannya?

Dengan melakukan refleksi, mungkin kita akan menemukan kesalahan kita, sehingga kita dapat segera memerbaikinya. Masalah-masalah lainnya pun juga tidak akan muncul seperti pada saat kita panik. Yang mana yang lebih baik menurut Anda? Apakah masalah itu memang buruk?











Masalah-masalah yang ada seperti air yang keruh. Kita adalah tumbuhan teratai yang belum sepenuhnya berkembang. Semakin keruh airnya, bunga teratai akan semakin indah warnanya. Semakin banyak masalah yang berhasil kita atasi, semakin mampu pula kita menghadapi beragam masalah. Inginkah Anda untuk belajar seperti teratai yang indah?



Thursday, 11 September 2014

Melihat ke dalam Cermin

Sebagian orang bersedia menerima kita apa adanya. Mereka mengetahui kelebihan dan kekurangan kita, serta mereka ingin menjadi teman bagi kita. Mereka pun bersedia mendengarkan kita, menanggapi setiap permasalahan kita. Namun, ada pula beberapa orang yang mungkin kelihatannya menerima kita, tetapi ia sama sekali tidak menanggapi pertanyaan-pertanyaan kita dan menelantarkan kita. Hanya manis di hadapan kita, tetapi sebenarnya tidak semanis itu.

www.jendelasastra.com

Semakin dipikirkan, semakin kita membenci orang tersebut. Disadari atau tidak, perasaan marah mulai menumpuk dalam hati kita. Perasaan marah yang tertumpuk dapat berubah menjadi dendam dan semakin membuat kita tidak nyaman. Agar terhindar dari semuanya itu kita harus memaafkannya. Memaafkan berarti kita sudah mampu memaklumi kekurangannya dan membiarkan yang terjadi berlalu. Sama halnya dengan membuka lembaran baru dalam hubungan dengannya.

Sekadar berkata-kata memang mudah,
pada kenyataannya memaafkan itu sangat sulit.
Jauh lebih sulit daripada soal matematika.

Pernahkah kita berpikir kita pun terkadang melakukan hal yang serupa? Bentuknya mungkin berbeda, tetapi kita juga pernah menyakiti hati orang lain. Kita hanyalah manusia, kita ingin disayangi dan tidak ingin disakiti, tetapi kita pun menyakiti. Disakiti orang lain bagaikan melihat diri kita di dalam cermin. Kita sama jahatnya seperti dia, tidak berbeda. Tidak ada yang lebih baik atau lebih buruk di antara kita, kita adalah sama.

Lalu, apa yang harus dilakukan setelah kita menyadari kita adalah sama?

Tentu kita tidak dapat mengatakan orang lain bersalah padahal diri kita juga bersalah. Menurut nilai-nilai dalam masyarakat mungkin dia memang salah, biarlah nilai-nilai itu yang berkata, bukan kita. Nilai-nilai ada untuk menjadi pedoman, sehingga ada nilai yang benar dan salah. Berbeda dengan kita, kita adalah manusia yang sama-sama dapat berbuat kesalahan.


mshabazz33.wordpress.com
Apakah kita bersedia melihat ke dalam diri sendiri untuk melihat seberapa baiknya kita? Yang dapat kita lakukan hanyalah bertutur kata dan bertindak dengan nilai yang baik. Kita memang bersalah, tetapi yang terpenting maukah kita memerbaiki kesalahan kita?

Mengatakan orang lain bersalah atau tidak bukanlah hal yang harus kita pikirkan. Lebih baik kita menjaga setiap tutur kata dan tindakan agar tetap baik. Tidak hanya baik bagi diri sendiri, tetapi juga baik bagi orang lain. Hati kitalah yang menerangi mereka melalui setiap tutur kata dan tindakan kita, sehingga mereka juga dapat tersadar dari kesalahannya.

Friday, 5 September 2014

Terluka

Beberapa orang mungkin tidak menyadari ada masalah di dalam dirinya. Mungkin saja masalah yang sebenarnya terpendam dalam hati seseorang. Dalam kondisi sadar, masalah itu tidak akan tampak meskipun sebenarnya terjadi. Namun, dalam kondisi tidak sadar, masalah itu dapat muncul, misalnya mimpi saat kita tertidur, melalui ekspresi seni, cara berbicara, perasaan kita, dan lain-lain. Kita yang tidak menyadarinya terus menyangkal bahwa sebenarnya ada masalah tersebut, artinya kita menyangkal sebuah kebenaran. Kebenaran itu tidak diketahui oleh siapapun, selain kita sendiri dan Seseorang yang mengetahui kehidupan kita selama ini.

www.radiantpeach.com
Tentunya kita sudah cukup akrab dengan ungkapan "luka batin" bukan? Tentunya Anda juga mengetahui luka batin Anda masing-masing dan penyebabnya. Luka batin tidak hanya sekadar menimbulkan perasaan tidak nyaman di masa lalu. Luka ini sama seperti luka fisik saat kita terjatuh. Ketika kita terjatuh, entah hanya luka pada kulit atau ada luka di bagian dalam seperti terkilir. Mungkin lukanya terlihat sudah sembuh, tetapi masih terasa sakit pada saat disentuh. Coba bayangkan luka batin itu seperti luka pada fisik. Setiap kali ada kejadian yang mengingatkan kita pada masa lalu itu terasa tidak nyaman bukan? Reaksi yang umum untuk menghadapi situasi itu adalah bertahan atau menghindar. Di satu sisi kita menganggap luka itu sudah sembuh. Akan tetapi, selama perasaan itu masih ada artinya luka itu belum sembuh seutuhnya, hanya saja tidak diketahui.

Beberapa orang memilih untuk menutup lukanya rapat-rapat. Mereka tidak bersedia itu diungkap kembali dan menghindar jika diminta bercerita atau marah. Itu adalah reaksi yang umum, memang sudah sewajarnya itu terjadi. Ketika pengalaman itu dapat teringat (disadari), besar kemungkinannya perasaan-perasaan tidak nyaman pun kembali dirasakan. Kita merasa sedih, takut, marah, dan beranggapan hanya diri kita sendiri yang berpengalaman seperti itu. Beberapa di antara kita juga memiliki anggapan Tuhan tidak ada pada saat itu, Ia tidak adil karena memerlakukan kita seperti itu.


Selama kita menceritakan pengalaman buruk, orang lain mungkin bosan dan mengatakan sudah mengetahuinya, serta meninggalkan percakapan atau hanya mengatakan "hm" tetapi tidak melakukan kontak mata. Bagaimana perasaan Anda pada saat itu? Selain itu, belum tentu seseorang selalu bersama kita pada saat kita membutuhkannya. Namun, ada Seseorang yang selalu ada bagi kita, dalam keadaan suka maupun duka. Ia pun dapat berperan sebagai orangtua atau teman bagi kita, tetapi ada yang berbeda, Ia selalu setia.


www.hngn.com
Seringkali kita melupakan-Nya kalau kita dalam keadaan senang. Dalam keadaan duka beberapa di antara kita pun justru kecewa terhadap-Nya. Ialah Tuhan. Di satu sisi kita kecewa terhadap Tuhan, di lain sisi Tuhan menunggu kita untuk datang dan bercerita kepada-Nya. Ia selalu ada untuk mendengarkan setiap cerita kita. Ia memang tidak selalu menjawab langsung dalam percakapan seperti orang-orang pada umumnya. Namun, Ia memiliki caranya sendiri untuk menanggapi ungkapan hati kita.


Kita tidak dapat sembunyi atau menutupi perasaan sebenarnya, Ia mengetahuinya. Ia pun akan mendengarkan kita sampai seluruh cerita kita selesai. Ketika kita menangis karena sebuah masalah, Ia tidak menolak kita melakukannya. Ia mengetahui hati kita terluka dan membiarkan kita mengeluarkan perasaan itu melalui air mata. Dengan mengeluarkan perasaan seperti itu, kondisi kita pun akan semakin membaik karena sudah meringankan sebagian beban dalam hati.

Luka batin pun sama seperti luka fisik. Dengan membiarkannya sedikit terbuka, pengalaman menyakitkan akan keluar perlahan-lahan. Tuhan selalu ada untuk menantikan saat-saat kita mengungkapkan isi hati kita kepada-Nya dan akan mendengarkan kita. Segala kepedihan, kemarahan, dan kesedihan hanyalah bagian dari proses penyembuhan, sama seperti rasa pedih saat luka diobati. Semakin banyak pengalaman itu dikeluarkan, semakin banyak perasaan yang keluar, semakin baik pula perasaan kita. Pilihan untuk membuka luka batin itu sepenuhnya adalah pilihan kita. Sebuah jalan sudah ada bagi kita, hanya kita yang belum menyadarinya. Saat kita berjalan di dalam jalan itu, hati kita akan pulih suatu saat nanti.