Sebagian orang bersedia menerima kita apa adanya. Mereka mengetahui kelebihan dan kekurangan kita, serta mereka ingin menjadi teman bagi kita. Mereka pun bersedia mendengarkan kita, menanggapi setiap permasalahan kita. Namun, ada pula beberapa orang yang mungkin kelihatannya menerima kita, tetapi ia sama sekali tidak menanggapi pertanyaan-pertanyaan kita dan menelantarkan kita. Hanya manis di hadapan kita, tetapi sebenarnya tidak semanis itu.
![]() |
Semakin dipikirkan, semakin kita membenci orang tersebut. Disadari atau tidak, perasaan marah mulai menumpuk dalam hati kita. Perasaan marah yang tertumpuk dapat berubah menjadi dendam dan semakin membuat kita tidak nyaman. Agar terhindar dari semuanya itu kita harus memaafkannya. Memaafkan berarti kita sudah mampu memaklumi kekurangannya dan membiarkan yang terjadi berlalu. Sama halnya dengan membuka lembaran baru dalam hubungan dengannya.
Sekadar berkata-kata memang mudah,
pada kenyataannya memaafkan itu sangat sulit.
Jauh lebih sulit daripada soal matematika.
Pernahkah kita berpikir kita pun terkadang melakukan hal yang serupa? Bentuknya mungkin berbeda, tetapi kita juga pernah menyakiti hati orang lain. Kita hanyalah manusia, kita ingin disayangi dan tidak ingin disakiti, tetapi kita pun menyakiti. Disakiti orang lain bagaikan melihat diri kita di dalam cermin. Kita sama jahatnya seperti dia, tidak berbeda. Tidak ada yang lebih baik atau lebih buruk di antara kita, kita adalah sama.
Lalu, apa yang harus dilakukan setelah kita menyadari kita adalah sama?
Tentu kita tidak dapat mengatakan orang lain bersalah padahal diri kita juga bersalah. Menurut nilai-nilai dalam masyarakat mungkin dia memang salah, biarlah nilai-nilai itu yang berkata, bukan kita. Nilai-nilai ada untuk menjadi pedoman, sehingga ada nilai yang benar dan salah. Berbeda dengan kita, kita adalah manusia yang sama-sama dapat berbuat kesalahan.
![]() |
Apakah kita bersedia melihat ke dalam diri sendiri untuk melihat seberapa baiknya kita? Yang dapat kita lakukan hanyalah bertutur kata dan bertindak dengan nilai yang baik. Kita memang bersalah, tetapi yang terpenting maukah kita memerbaiki kesalahan kita?
Mengatakan orang lain bersalah atau tidak bukanlah hal yang harus kita pikirkan. Lebih baik kita menjaga setiap tutur kata dan tindakan agar tetap baik. Tidak hanya baik bagi diri sendiri, tetapi juga baik bagi orang lain. Hati kitalah yang menerangi mereka melalui setiap tutur kata dan tindakan kita, sehingga mereka juga dapat tersadar dari kesalahannya.


No comments:
Post a Comment