Ada begitu banyak masalah dalam kehidupan. Kita pun tidak dapat menyebutnya satu per satu. Setiap hari, setiap jam, setiap menit, dan setiap detik kita selalu bersama dengan masalah. Tidak jarang pula sebuah masalah membuat kita terus memikirkannya. Berbagai konflik muncul dalam pikiran kita karena masalah tersebut. Akibatnya masalah-masalah lain pun berdatangan sebab kita terus memikirkan masalah yang sebelumnya. Selain itu, kita cenderung berpikir masalah sama dengan hal yang tidak baik, hanya mendatangkan kesulitan bagi kita, yakin???
Perasaan tidak berdaya adalah perasaan yang akrab dengan kita saat bermasalah. Datang tak diundang, pergi tak diantar, itulah dia. Gara-gara dia, kita mudah putus asa dan berhenti mengatasi masalah. Itu adalah keinginannya, apakah itu yang kita inginkan? Jika putus asa bukan keinginan kita, tentu saja masih ada jalan lain. Boleh saja satu kali atau dua kali kita kalah dari masalah, apa mau kita terus mengalah, mau sampai kapan?
Saat kita kalah dari perasaan tidak berdaya, itulah waktu yang tepat untuk belajar. Kita anggap saja masalah itu sebagai lawan yang harus kita kalahkan dalam sebuah permainan. Dalam sebuah permainan, kita dapat memanfaatkan berbagai macam hal untuk mengalahkan lawan kita dengan cara yang tidak curang. Di satu sisi kondisi kita memang terbatas, tidak semua hal dapat kita lakukan. Terkadang itulah yang membuat kita putus asa, kita lupa bahwa dalam keterbatasan keteguhan hati kita yang diuji.
Tentu saja Tuhan tidak mengharapkan kita terpuruk, Ia selalu menunggu kita untuk bangkit berdiri dan kembali berjuang. Mungkin kita berpikir mengapa Ia tidak membantu kita saat kita dalam kondisi sulit. Sama halnya seperti kita, Ia memiliki alasan atas tindakan-Nya. Akan tetapi, pertimbangan-Nya berdasarkan atas apa yang Ia ketahui mengenai kita dari masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang. Ia mengetahui itu semua, sedangkan kita tidak.
Saat kita berpikir kesulitan adalah sebuah ujian, itu akan lebih ringan daripada memandangnya sebagai masalah yang membuat kita terpuruk. Seperti ujian di sekolah, kita pun ingin lulus dari ujian tersebut. Tuhan ingin kita berusaha lebih keras, mengerahkan seluruh kemampuan kita. Pada akhirnya, ketika kita berhasil mengalahkan masalah itu kita pun lebih percaya diri. Kita tidak lagi beranggapan kita tidak berdaya sepenuhnya.

Kemungkinan lainnya, kita dilatih untuk bersabar. Jika kita tidak tenang, kita akan sulit berpikir jernih untuk menemukan titik terang sebuah masalah. Seringkali titik terang itu sudah kita temukan, tetapi kita belum menyadarinya. Misalnya, saat mengerjakan soal matematika, kita melewatkan satu proses perhitungan. Akibatnya kita tidak tahu bagaimana langkah berikutnya, padahal sudah ada penanda kita melupakan sesuatu.
Kita cenderung terus berpikir, "Apa yang harus dilakuin coba? Aduh... gua panik!!! Gimanaa???" Lalu kita menelpon teman-teman, yang terjadi kita yang dimarahi karena tidak sengaja melampiaskan perasaan, masalah baru...
Menurut Anda, bagaimana jika kita melakukan refleksi? Kita ingat-ingat lagi dari awal sebelum masalah terjadi sampai masa kini. Apakah ada perbedaannya?
Dengan melakukan refleksi, mungkin kita akan menemukan kesalahan kita, sehingga kita dapat segera memerbaikinya. Masalah-masalah lainnya pun juga tidak akan muncul seperti pada saat kita panik. Yang mana yang lebih baik menurut Anda? Apakah masalah itu memang buruk?
![]() |
Masalah-masalah yang ada seperti air yang keruh. Kita adalah tumbuhan teratai yang belum sepenuhnya berkembang. Semakin keruh airnya, bunga teratai akan semakin indah warnanya. Semakin banyak masalah yang berhasil kita atasi, semakin mampu pula kita menghadapi beragam masalah. Inginkah Anda untuk belajar seperti teratai yang indah?


No comments:
Post a Comment