Monday, 10 August 2015

Menari di Tengah Hujan

www.ibnlive.com

Ketika turun hujan saat kita ingin berpergian, tentu hujan dianggap sebagai sesuatu yang menyebalkan. Fakta yang unik dalam budaya orang Chinese, hujan pun dianggap sebagai "turunnya rejeki." Seringkali menjelang imlek atau tepat pada hari imlek, hujan turun. Bagi orang Chinese hujan di hari imlek di satu sisi rejeki tetapi ada juga yang beranggapan hujan itu menyebalkan. Apakah benar, hujan itu selalu identik dengan kata "menyebalkan?" Bagaimana jika hujan turun di musim kemarau ketika seluruh tanah begitu kering, cuaca begitu panas, rasanya enggan untuk keluar rumah? Menyebalkankah?

Terdapat sebuah ungkapan menarik saat saya membaca renungan harian, "menari di tengah hujan." Jika dibayangkan, seseorang yang menari identik dengan ekspresi senyum, perasaan bahagia. Ketika ia menari, orang lain pun terpukau dan dapat merasakan pula kebahagiaan yang ia rasakan. Tidakkah Anda penasaran apa yang membuat "hujan" dapat melukiskan senyuman di wajah seseorang yang . Maksudnya bukan tarian pemanggil hujan tentunya.... ha3

"Menari di tengah hujan" memiliki arti "mensyukuri segala sesuatu yang terjadi." Mungkin saja pada masa sekarang kita belum dapat melihat adanya sisi positif dari kejadian yang tidak kita sukai. Contohnya, mendapat nilai buruk saat kuliah, gagal saat bekerja, memiliki masalah dalam relasi, dan lain-lain. Tentunya hal-hal ini tidaklah menyenangkan UNTUK SAAT INI. Sekarang kita memiliki masalah, tetapi kita tidak tahu apakah masalah serupa akan muncul di masa depan atau tidak. Jika seandainya muncul masalah yang hampir sama atau masalah serupa, kita mengetahui apa yang harus dilakukan untuk mengatasi/mencegahnya. Tidak selamanya buruk bukan?

www.wallpaperup.com
Cobalah perhatikan, apakah masalah yang sekarang kita alami merupakan akhir dari segalanya dan tidak ada jalan keluar? Sebuah jalan keluar tidak akan muncul jika kita tidak dapat mengendalikan diri. Selama tidak dapat mengendalikan diri, perasaan kita tidak tenang. Apapun yang kita pikirkan tidak akan matang, karena terpengaruh emosi. Selama tidak terkendali, kita tidak mengambil keputusan dengan pertimbangan yang matang, sehingga kita hanya langsung mencari kesimpulan. Akibatnya, kita tidak menemukan jalan keluar dan memandang masalah sebagai "menyebalkan."

Seringkali masalah yang terjadi tidak berdampak pada semua aspek kehidupan kita. Misalnya kita merasa kesal karena sebuah kegagalan. kita terus saja sibuk memikirkan masalah itu, padahal kegagalan itu dapat diperbaiki. kegagalan adalah sesuatu yang tidak menyenangkan. Akan tetapi, kita mendapatkan pelajaran dari kegagalan untuk meraih keberhasilan di masa depan. Jadi, jangan pernah beranggapan bahwa kita akan selalu gagal. Kita memang tidak dapat mengubah masa lalu, tetapi kita dapat mengubah masa depan. Masa depan ada di tangan kita sendiri. 

www.hdwallpaperscool.com
"Hujan" tidak selalu mendatangkan ketidakbahagiaan bukan? Buktinya, hujan membawa air untuk mendatangkan kehidupan. Bayangkan jika hujan tidak turun, tumbuhan tidak akan pernah muncul dan makhluk hidup akan dilanda kekeringan. Pada kenyataannya banyak hal yang dapat kita peroleh saat "dihujani" masalah-masalah dalam kehidupan. Masalah-masalah itu ibarat "air hujan" yang akan mendatangkan kebahagiaan di masa depan. Dari sesuatu yang tidak menyenangkan, kita dapat menemukan sesuatu yang lebih berharga. Hanya saja, diperlukan kesabaran dalam menemukannya dan menerima segala yang terjadi dengan sebuah senyuman.

30secondance.com



Belajar dari Siput

Setelah ibadah hari Minggu dan membaca renungan hari Senin, ternyata keduanya memiliki pembahasan yang hampir sama. Keduanya berkaitan dengan tema "ketekunan." Ya, tentu saja, orang yang memiliki ketekunan cukup "langka" pada masa ini. Bahkan, orang-orang rajin pun ada kalanya bermalas-malasan. Namun, dalam kedua bahasan yang saya renungkan, setiap orang dapat bangkit kembali dari kemalasannya, tergantung apa pilihannya dan seberapa kuat komitmennya. Ada sebuah hal yang menarik dalam salah satu pembahasannya, yaitu analogi mengenai seekor siput. Umumnya, hewan yang dianalogikan sebagai pembelajaran adalah semut untuk kerajinan dan anjing untuk loyalitas. Ternyata, ada hal yang dapat diteladani juga dari seekor siput. Meskipun lambat, ia gigih untuk mencapai tujuannya.

spongebob.wikia.com

Siput termasuk sebagai hewan yang bergerak dengan lambat. Ia harus berjalan ke sana dan ke mari untuk mendapatkan makanannya. Siput adalah hewan yang bertubuh lunak (mollusca) dan memiliki kerangka di luar tubuhnya, yaitu tempurung. Bagi kita tempurung itu ringan, tetapi bagi seekor siput kecil, tempurung itu cukup berat bagi tubuhnya yang lunak dan mungil. Meskipun demikian, ia tetap membawanya kemanapun selama mencari makanan. Kesulitan-kesulitan selama perjalanan jauh ditempuh dengan lambat, ini bukanlah hal yang mudah, Ia harus memanjat pohon, menemukan daun yang ia inginkan, dan kembali pulang setelah makan. Selain itu, ia selalu membawa tempurungnya yang berat, sungguh berat perjalanannya.

Kita bukanlah siput, kita memang tidak memiliki tempurung dan tidak berjalan dengan lambat. Namun, kitalah yang membuat diri kita semakin lambat. Kita senantiasa bermalas-malasan.... Menunda mengerjakan tugas... cenderung mencari cara yang instan untuk menyelesaikan persoalan.. Ada pula di antara kita yang mengatakan "tidak mood," sehingga pekerjaan ditelantarkan. Hal-hal inilah yang menjadi "tempurung" bagi kita. "Tempurung" ini akan terasa berat setiap kita memikirkannya. Kitalah yang memilih untuk berada di bawah tempurung itu dengan tidak bergerak, sehingga tidak merasa terlalu berat. Jika perlu, mengandalkan bantuan orang lain adalah solusi yang sangat disukai.

Dengan demikian, kita kalah dengan kegigihan seekor siput yang terus berjalan menanggung segala kesulitan yang dihadapi tanpa mengeluh. Hanya masalah kecil sudah cukup untuk membuat kita jera dan berhenti mencoba. Bagaimana dengan masalah yang lebih besar? Apakah kita akan mengatasinya atau melarikan diri? Kita memiliki pilihan untuk menempuh jalan yang sulit untuk menyelesaikan masalah dan membiarkan masalah itu terjadi tanpa upaya mengatasinya (cara termudah), mana yang menjadi pilihan kita?


coolvibe.com
Agar sesuatu yang baik dapat kita peroleh, kita perlu mengorbankan energi untuk mencapainya. Tentu saja proses ini tidaklah instan, keberhasilan tidak datang dengan sendirinya. Kitalah yang harus mengejar keberhasilan itu. Berkali-kali jatuh bangun adalah proses. Dengan keberhasilan di masa lalu, kita akan semakin percaya diri. Dengan kegagalan di masa lalu, kita belajar dari kesalahan untuk berusaha kembali. Baik keberhasilan, maupun kegagalan, keduanya adalah pengalaman dan pengalaman adalah guru yang terbaik. Kuncinya adalah tetap gigih seperti seekor siput yang selalu berusaha meskipun mengalami banyak tekanan. Sekarang, pilihannya ada di tangan kita, ingin berada di bawah tempurung atau berusaha bergerak meskipun dibatasi oleh tempurung?

Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu   itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang,  supaya kamu menjadi sempurna   dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun.

(Yak 1: 2-4)

Wednesday, 24 June 2015

Janji Kepada Diri Sendiri

"Saya komitmen mau berubah jadi lebih baik", "Saya komitmen berolahraga setiap hari", "Saya komitmen tidak memakan makanan berkolestrol secara berlebihan", dan lain-lain. Apapun komitmennya, seringkali hanya komitmen di awal dan berakhir di tengah, bukan di akhir. Ibaratnya, tidak lagi berkomitmen di tengah perjuangan mewujudkan komitmen itu sendiri. Alasan yang muncul, entah sulit menjalankan komitmennya, "sekali-sekali tidak apa-apa," dan faktor-faktor lain. Komitmen yang dilanggar dapat kita jumpai dalam kasus apapun, baik kasus sederhana maupun kasus yang besar.

Berbagai macam alasan keluar dari pernyataan seseorang yang komitmennya menghilang tiba-tiba. Contohnya, "Iya, kalo di tempat X kan lebih dekat, jadi bisa lebih konsisten bekerja." Padahal, sebelumnya ia menanyakan dimana tempat kerja yang terbaik. Secara logika, jika memang yang ia datangi adalah yang terbaik dan ia selalu menginginkan yang terbaik, masalah jarak bukan sesuatu yang dikhawatirkan bukan? Bagaimanakah komitmennya untuk berubah menjadi lebih baik? Contoh lainnya adalah komitmen tahun baru. Masih ingat dengan ungkapan "resolusi di tahun baru" bukan? Awalnya, keinginan mewujudkan keinginannya sangat besar, di tengah jalan komitmennya menghilang entah kemana.

www.adpushup.com
Komitmen yang tidak benar-benar kuat terjadi karena berbagai faktor. Faktor pertama, tujuan yang tidak realistis, entah terlalu banyak atau tujuan terlalu tinggi. Dengan tujuan seperti ini, belum tentu tujuan dan kemampuan seseorang selaras. Misalnya ingin mendapatkan nilai 100, tetapi belajar 1 menit sudah pusing dan berencana ingin belajar minimal 4 jam setiap hari NONSTOP. Realistis? Ketidakselarasan tujuan dan kemampuan seseorang akan menimbulkan rasa frustrasi yang mengarah pada keinginan seseorang untuk menyerah. Dengan kata lain, berhenti berkomitmen. Semakin besar kesenjangan tujuan dan kemampuan, semakin besar pula rasa frustrasi, semakin besar kemungkinan menyerah.

www.sillycats.net
Faktor kedua, pengendalian diri. Teman-teman yang berpuasa tentu sudah memahami istilah ini, karena dalam bulan puasa seseorang belajar untuk berusaha mengendalikan hasrat-hasrat dalam dirinya untuk menjadi orang yang lebih baik. Beberapa orang mudah sekali "tergoda" dengan apa yang dilihat, didengar, maupun dirasakan. Misalnya, saat sedang belajar, merasa bosan, lalu melihat komputer. Yang ada di pikirannya, "Enak juga ya kalau main game dulu... sebentar saja...." Ketika bermain, "Ah tanggung, dikit lagi deh, ini juga baru sebentar (kenyataannya sudah 2 jam)." Satu jam kemudian, "Ah masih mumet, main lagi...." Malam harinya.... 1 halaman dari buku pelajaran pun belum selesai dipelajari. Pertanyaannya, dimana komitmen untuk belajar? Hahaha...

www.balleralert.com
Faktor ketiga, "mengikuti arus."  Kita ambil satu contoh, "saya berkomitmen mau berubah jadi lebih baik." Terdapat sebuah kemungkinan bahwa seseorang memiliki keinginan yang banyak untuk mencoba berbagai cara. Ia pun "mengikuti arus," setiap ada rekomendasi dari seseorang terus saja diikutinya. Kita juga menjumpai saat ia menjalani satu alternatif, ia berpindah ke alternatif lain sebelum ia menjalani alternatif pertama sampai selesai. Dalam dunia psikologi atau dunia kedokteran, hal ini adalah umum. Seseorang pergi ke psikolog/dokter pertama untuk keperluan pemeriksaan, lalu ia tiba-tiba menghilang sebelum psikolog/dokter menjelaskan masalahnya. Ada pula seseorang yang tidak konsisten menghadiri tiap sesi atau tiba-tiba menghilang di tengah sesi terapi.

Faktor-faktor yang diungkapkan di sini hanya 3 faktor, masih ada faktor-faktor lainnya. Hal terpenting yang perlu diingat adalah untuk memikirkan kembali apakah tujuan yang kita miliki cukup realistis untuk dicapai atau tidak. Usaha lainnya adalah berusaha mengendalikan diri terhadap apa yang dialami, tetap berpegang pada komitmen. Daripada mengikuti arus saja, lebih baik 1 alternatif, tetapi dijalani sampai akhir, sehingga kita dapat mengevaluasi apakah alternatif itu efektif. Setelah satu alternatif selesai, baru pindah ke alternatif lainnya. Terakhir, lakukan seleksi terhadap alternatif-alternatif yang ada untuk menentukan mana yang paling efektif.

Monday, 15 June 2015

Sebuah Keyakinan

"Kalau percaya, Anda pasti bisa!" Seringkali ungkapan ini terungkap saat kita membaca buku yang berkaitan dengan motivasi. Dalam seminar-seminar motivasi, ungkapan tersebut juga seringkali disebutkan. Jika berpikir secara harafiah, bagaimana mungkin kita hanya percaya, tiba-tiba situasi berubah seperti yang kita inginkan? Namun, perlu diperhatikan lebih lanjut, seberapa besar keyakinan itu, seberapa kuat, dan sampai berapa lama keyakinan itu bertahan untuk melihat apakah ada dampak dari keyakinan itu atau tidak.

Hanya memiliki keyakinan tanpa melakukan sesuatu tentu tidak membuahkan hasil. Ibaratnya, kita hanya memiliki harapan, tetapi tidak berusaha "menuntut" yang kita inginkan dengan sebuah usaha.  Ada kalanya juga, seseorang terus mengatakan dirinya "tidak mampu," lalu ia mendapatkan prestasi yang buruk dan benar-benar tidak mampu. Contohnya, ia mengatakan tidak mampu mendapat prestasi yang baik, ternyata banyak sekali pembenaran yang harus dilakukan dalam kinerjanya. Pikiran tersebut bukan hanya sebuah pikiran yang terlintas saat itu saja. Namun, pikiran itu sudah menjadi "keyakinan" yang melekat pada orang tersebut. Ia sudah berpikir tidak mampu sejak lama, sehingga pikiran ini menjadi keyakinan karena ia seringkali mendapat prestasi yang buruk. Selanjutnya, ia tidak berusaha secara maksimal karena memiliki keyakinan ia akan tetap gagal meskipun berusaha keras.

Dari kasus yang kita bahas sebelumnya, terlihat bahwa keyakinan menimbulkan dampak dalam bentuk yang dapat kita lihat, yaitu performa. Sayangnya, banyak di antara kita yang masih memiliki keyakinan buruk mengenai diri sendiri. Sebuah keyakinan semakin kuat dengan adanya bukti-bukti yang dapat kita lihat secara kasat mata yang sesuai dengan keyakinan itu. Tidaklah mustahil jika kita ingin mengubah keyakinan menjadi lebih baik. Berikut ini adalah contohnya...

Keyakinan: "Saya tidak memiliki kemampuan yang cukup untuk belajar bidang X (contoh)"

T: Apa yang membuat Anda berpikir demikian?
J: Saya sering mendapat nilai yang buruk dalam mata kuliah A, B, C, D, dst.

T: Seberapa buruk nilai Anda?
J: Saya tidak pernah mencapai nilai A.

T: Apakah nilai B adalah nilai yang buruk?
J: Tidak juga sih.... tapi... lebih bagus nilai A.

T: Seberapa sering Anda belajar untuk mendapat nilai A?
J Malam hari sebelum ujian. Soalnya saya lebih gampang nyerap materi semalam sebelumnya.

T: Buktinya Anda tidak mendapat A?
J: Iya sih....

Dari sepenggal dialog di atas, seorang mahasiswa memiliki keyakinan bahwa ia tidak mampu dalam bidang X. Setelah ditelusuri, rupanya ia hanya belajar di malam hari sebelum ujian,

Sistem Kebut Semalam (SKS), AYO! NGAKU! 

Siapa yang sering seperti ini? Hahaha..

Pada kenyataannya, usaha mahasiswa ini tidak membuahkan hasil seperti ekspektasinya. Artinya, terdapat kesenjangan antara ekspektasi dan usahanya selama ini. Ekspektasinya terlalu tinggi, usahanya terlalu minim. Hal ini terus terulang, sehingga ia merasa tidak berdaya dalam bidang tersebut. Dalam kondisi itu, keyakinan ia tidak mampu semakin kuat.

Sebenarnya, ia dapat diajak untuk mengeksplorasi solusi untuk masalah ini. Misalnya, melakukan persiapan di hari-hari sebelumnya dengan memberi tanda pada buku teks, melengkapi catatan, dan membaca sekilas. Jika terdapat peningkatan prestasi, meskipun tidak terlalu signifikan, tetap merupakan sebuah kemajuan. Apa progres ini artinya benar-benar tidak mampu? Jika terus dilakukan, keyakinan negatif akan dirinya sendiri akan berubah menjadi lebih positif, karena tidak ada lagi bukti bahwa ia tidak mampu. Dengan demikian, ia tidak lagi beranggapan tidak mampu, tetapi mampu.

Keyakinan baru tersebut memiliki proses yang sama dengan keyakinan lama, hanya sedikit berbeda. Keyakinan itu membuat seseorang akan terus mencoba meskipun gagal. Sedangkan keyakinan sebelumnya membuat seseorang merasa tidak berdaya dan berhenti berusaha. Dua hal yang berbeda bukan? Mana yang menjadi pilihan Anda?

Monday, 23 February 2015

Harta Terpendam

Begitu banyak hal yang kita miliki. 
Kita memiliki napas hidup, kita memiliki pikiran, dan perasaan.
Kita memiliki keluarga dan teman-teman yang sayang kepada kita.
Kita pun memiliki harta, berupa uang, benda-benda berharga, dan lain-lain.

Katakan, yang mana yang paling berharga di antara semua itu?

Andaikan, kita sedang menggali tanah dan cangkul kita terbentur pada sesuatu. Ternyata sesuatu itu adalah sebuah peti. Ketika kita membukanya, kita menemukan banyak emas dan permata yang indah di dalamnya. Ditambah lagi, pemilik lahan itu tidak tahu sama sekali adanya HARTA tersebut ada di lahannya. Kita adalah orang pertama yang menemukan adanya HARTA itu, sementara harga lahan itu sama sekali tidak sebanding dengan harga HARTA itu. Bersediakah kita menjual segala kepunyaan kita demi mendapatkan HARTA itu?

Tidak ada yang mengetahui adanya HARTA tersebut. Tidak ada yang pernah melihat wujud HARTA itu. Ketika kita melihat HARTA itu, hati kita berubah, kita ingin sekali memilikinya. Jika seandainya HARTA tetap tidak terlihat, maukah kita memilikinya?
Bersediakah kita menukar segala yang kita miliki hanya untuk harta itu?

Pernahkah kita berpikir, siapa yang memberikan hidup ini? Bagaimana rejeki dapat begitu saja datang kepada kita? Pernahkah kita terbayang mengapa kita memiliki sebuah bidang keahlian atau profesi dan bukan bidang atau profesi lain? Pernahkah kita bertanya, mengapa dunia itu ada dan kita berada di dunia ini memiliki begitu banyak hal?
Siapa yang berperan dalam hidup ini?

Ya, mungkin Anda sudah menerka jawabannya, Dialah Tuhan. Dia memberi kita segalanya hanya karena Dia mengasihi kita. Dia rela berkorban, hanya demi kita, orang-orang yang terus membuat-Nya bersedih. Jika kita menjadi Dia, maukah kita mengasihi seseorang yang telah menyakiti kita? Ia memang tidak menyukai segala kesalahan yang kita lakukan kepada-Nya, tetapi dia menyayangi kita dan menerima kita, terlepas kita berasal dari etnis mana, dari negara mana, baik muda, maupun yang lebih dewasa. Ia mengasihi kita.

Ia memang tidak dapat kita lihat, tetapi Ia ada. Bayangkan, saat kita bertengkar dengan orang lain, rasanya benar-benar tidak ingin bertemu dengannya lagi. Kita memang mengatakan itu kepada diri kita, tetapi pada akhirnya hubungan kita dengannya pulih. Ada dorongan dari dalam hati kita dan teman kita untuk memaafkan dan bersedia memulihkan relasi. Ada bisikan dalam hati kita untuk memaafkan orang itu. Ada bisikan dalam hati kita untuk melihat kembali, apakah kita juga bersalah kepada dia. Itulah keajaiban yang sedang terjadi. Darimanakah pikiran dan dorongan ini datang? Darimanakah sisi kebaikan yang ada dalam diri kita?

Kebaikan yang ada di dalam kita berasal dari Dia. Dialah yang mengingatkan ketika kita bersalah. Dia berduka atas kesalahan kita, tetapi Dia ingin kita bangkit dan mengoreksi diri sendiri. Itu hanyalah salah satu harta yang Ia berikan. Masih ada banyak harta lainnya yang selalu Ia berikan dalam kehidupan kita sehari-hari. Kasih-Nya tulus, Ia tidak meminta apapun dari kita, Ia hanya meminta kita percaya kepada-Nya. Ia rindu kita berpaling kepadanya dan kembali menerimanya dalam hati kita yang terdalam.

quotes-kid.com
Dialah HARTA yang terpendam dalam hati kita. HARTA itu akan nyata ketika kita mau melihat ke dalam hati dan menerimanya. Ia adalah sumber segala berkat. Ia tidak seperti harta-harta di dunia ini yang hanya bernilai materi. Ia memiliki kasih yang tidak dapat diukur kedalamannya. Hanya karena kasih, kita berada di sini sekarang pada detik ini. Ketika kita menyadari bahwa Ia ada, perasaan kagum akan keindahan-Nya tidak lagi dapat dilukiskan dengan kata-kata.

Mulut kita berhenti mengucapkan kata-kata, mata kita tidak berkedip, dan seolah-olah jantung kita berhenti pada detik itu, tetapi kita masih menyaksikan Dia. Tanpa kata-kata yang terucap, setetes air mata yang bening menetes saat menyaksikan keindahan-Nya yang tidak terucapkan. Tidak perlu takut kita mengalami kesusahan karena menerima Dia, karena Dia yang akan memimpin kita untuk keluar dari kesusahan itu. Meskipun kita tersakiti karena kita memilih Dia dan meninggalkan segalanya, Dia yang memulihkan kita. Tidak perlu cemas jika dunia menolak kita, karena Dia yang menciptakan dunialah yang menerima kita. Dia rindu akan kedatangan kita mengadap kepada-Nya untuk mengakui segala kesalahan dan menerima-Nya, karena Ia mengasihi kita dan Dialah HARTA terpendam itu sendiri.



Hal Kerajaan Sorga itu seumpama  harta  yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamkannya lagi. Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu.
(Mat 13: 44)

Kasih yang terindah
Hati yang mulia
Hanya kutemukan di dalam-Mu, Yesusku
Pujian dari hatiku selalu di setiap waktuku
Tiada pernah berubah, kasihku...

Karya terbesar dalam hidupku
Pengorbanan-Mu yang slamatkanku
Engkaulah harta yang tak ternilai
Yang kumiliki dan kuhargai
Yesus, Engkau kukagumi....


~Karya Terbesar~

Hal apa yang paling berharga dalam hidup ini?

Saturday, 7 February 2015

Kita Berharga

"Saya TIDAK dapat melakukan apa-apa! SEMUA yang saya lakukan SELALU gagal! SEMUA orang selalu mengomentari apapun yang saya lakukan. Mereka semua mengatakan bahwa saya TIDAK PERNAH menunjukkan apa-apa, hanya dapat berbicara. Meskipun terkadang mereka memuji saya, performa saya SAMA SEKALI tidak nyata. Saya memang TIDAK berguna. Saya TIDAK berharga. TIDAK ada yang membutuhkan saya. Mereka SEMUA dapat berjalan tanpa saya."

Pernah berpikir seperti teks di atas?

Bagaimana perasaan seseorang yang berpikir seperti teks di atas? Apa perasaan pertama yang dirasakan saat ia bangun tidur? Bagaimana cara dia untuk menyambut pagi hari yang cerah dan aktivitas hari itu? Mungkin beberapa di antara kita merasa marah ketika dihadapkan pada orang-orang yang berpikiran seperti ini. Ingin sekali rasanya membalikkan semua yang ia ucapkan menjadi kenyataan yang lebih realistis. Sayangnya, ia tidak akan mudah menerima sesuatu yang bertentangan dengan pikirannya.

Perasaan tidak nyaman, bosan, cemas, lesu, dan lain-lain sudah menjadi sahabat karib jika sudah berpikir bahwa diri sendiri tidak berharga. Orang-orang yang berpikir demikian bukan berarti mereka lemah dan tidak berdaya seperti yang mereka katakan mengenai diri mereka sendiri. Sebaliknya, mereka memiliki satu, dua, tiga, bahkan banyak kelebihan dalam dirinya yang masih terpendam. Mereka belum menyadari hal itu.

Ketika mengatakan "Saya tidak dapat melakukan apa-apa," bayangkan apakah kita dapat berjalan, kita mampu beraktivitas, kita dapat berbicara, dan sebagainya? Apakah itu semua dinamakan "tidak dapat melakukan apa-apa? Dalam hal apa saja Anda tidak dapat melakukan sesuatu? "Ternyata saya masih dapat melakukan banyak hal, hanya beberapa hal saja yang tidak dapat saya lakukan dengan baik."

"Saya selalu gagal." Anda yakin? Bukankah Anda pernah belajar dan Anda mampu bekerja sekarang? Apakah itu sebuah kegagalan? Tanyakan kembali pada diri kita masing-masing apakah benar apa yang kita pikirkan itu. Tanpa disadari pikiran-pikiran itu telah menjadi "R-A-C-U-N" yang sewaktu-waktu dapat membuat kita benar-benar tidak berdaya.

Dengan berkata "tidak dapat melakukan apa-apa," "selalu gagal," dan lain-lain membuat kita enggan untuk mencoba lagi setelah gagal. Sebuah keberhasilan yang gemilang sangat kecil kemungkinannya untuk diraih dengan usaha yang minimalis. Akan tetapi, keberhasilan yang gemilang masih mungkin dicapai dengan usaha yang keras, bahkan sangat mungkin. Jangan lupa, kita selalu memulai dari NOL alias KOSONG. Jika kita berusaha, angka nol semakin pudar, karena kita TERUS BERUSAHA untuk mengisi kekosongan yang ada dalam diri kita.

Katakan saja, kita NOL dalam hal matematika. Ketika kita belajar, kenyataannya kita dapat menyelesaikan perhitungan yang sulit. Apakah itu masih angka nol yang sebelumnya? Bukankah itu bernilai 100? 

Setiap orang memiliki keunikan tersendiri, kelebihan, dan kekurangan. Mungkin ada di antara kita yang menguasai keterampilan yang sama. Ada pula di antara kita yang memiliki kemampuan berbeda. Mungkin kita belum menerima beberapa kekurangan yang dimiliki. Mungkin kita menganggap diri sendiri hanya memiliki kekurangan tanpa kelebihan. Apakah kita ingin berhenti sampai di sini saja dan membiarkan masa depan tercemar oleh pikiran-pikiran yang "meracuni" kita?

Hanya satu kali atau beberapa kali gagal tidak menjadi permasalahan. Permasalahan sesungguhnya apakah kita bersedia untuk belajar untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama? Setiap dari kita memiliki kesempatan kedua untuk berkembang menjadi lebih baik. Pilihannya adalah mau atau tidak? Manakah yang Anda pilih?

SEMUA kekurangan >> BEBERAPA kekurangan
Kita TIDAK berharga >> Kita BERHARGA

I'm most proud of the blessings that God has bestowed upon me, in my life. He's given me the vision to truly see that you can fall down, but you can still get back up. Hopefully I'll learn from my mistakes and have the opportunity to strengthen and improve the next thing I do.
- Martin Lawrence -


Monday, 26 January 2015

Harapan Orangtua pada Anak

Bagi siapapun yang pernah berinteraksi dengan seorang anak umumnya mereka mengetahui kira-kira yang menjadi kendala saat bersama dengan anak-anak. Anak menangis? Ingin keinginannya dituruti padahal kita belum dapat mewujudkannya? Masih banyak lagi masalah-masalahnya. Salah satu masalah yang akan kita bicarakan di sini adalah pada saat anak tidak berhasil memenuhi harapan orangtuanya. Kelihatannya memang bukan masalah yang besar, tetapi cukup berdampak pada diri si anak.

satelitnews.co
Contohnya, terkadang kita menempatkan anak-anak dalam situasi seperti keinginan kita. Umumnya, orangtua ingin sekali anaknya memeroleh prestasi gemilang dalam bidang tertentu (Nurrahman, 2014). Demi tujuan tersebut, si anak didaftarkan untuk kursus, bahkan waktu bermain si anak pun berkurang. Si anak terus menerus ditempatkan dalam situasi yang mengharuskannya untuk belajar, belajar, dan belajar untuk mencapai prestasi gemilang.

Dengan menuntut anak memenuhi keinginan orangtua yang begitu besarnya, sama halnya menganggap si anak sama dengan "orang dewasa mini." Dalam hal ini, seorang anak dianggap mampu meraih prestasi di luar kemampuannya (Sunarti, 2004). Meskipun si anak mengatakan ia tidak sanggup menjalani tanggung jawab seberat itu, orangtua demikian terus meyakinkan anaknya untuk tetap berjuang.

www.dreamstime.com
Jika si anak memang mampu memenuhi keinginan orangtuanya, memotivasi anak saat ia merasa tidak mampu adalah hal yang tepat. Dengan memotivasi anak pada situasi tersebut, ia akan belajar bahwa ia dapat menggunakan kemampuannya untuk mencapai tujuan, selama tujuan itu realistis. Misalnya, kita memberikan target nilai minimal 70 untuk memberikan hadiah kepada si anak. Kita menerapkan target nilai itu karena kita sudah melihat si anak mampu mencapai nilai 70, tetapi lebih sering mendapatkan nilai 65. Target tersebut tidak terlalu sulit (masih realistis), daripada jika kita menerapkan nilai yang lebih tinggi.

Setelah anak terbiasa dengan menerapkan target realistis dalam prestasinya, ia pun akan tumbuh menjadi pribadi yang cenderung berpikir realistis. Ketika ia membuat target baru dalam kehidupannya, ia akan memertimbangkan kemampuannya terlebih dahulu sebelum menentukan tujuannya. Tidak hanya mampu menerapkan tujuan yang realistis, si anak juga akan belajar mengenai batas kemampuan dalam dirinya sendiri. Misalkan, ia mampu mencapai nilai 70 untuk saat ini, tetapi belum mampu mencapai nilai 80. Jika ia tidak mendapatkan nilai 80, ia tidak terlalu kecewa, karena ia paham kemampuannya adalah mencapai nilai 70. Jika ingin mengarahkannya untuk mendapatkan nilai lebih baik, tentu masih memungkinkan jika kita memahami cara belajar anak tersebut dan ia memiliki kompetensi dalam bidang apa saja.

Berbeda jika si anak memang tidak mampu tetapi kita memotivasinya untuk mencapai target yang tidak realistis bagi anak tersebut. Secara tidak langsung, kita mendidik anak untuk menerapkan tujuan yang "tidak realistis" dalam kehidupannya. Misalnya, anak yang hanya mampu mencapai nilai 70 untuk saat ini diharuskan memeroleh nilai 100. Dengan usaha yang keras mungkin tujuannya akan tercapai, tetapi si anak memiliki beban tersendiri saat ia berusaha. Ia tidak ingin dimarahi orangtuanya jika tidak mendapat nilai sempurna. Akibatnya, si anak mungkin menghalalkan segala cara untuk memeroleh nilai sempurna agar ia tidak dimarahi. Selain itu, si anak terbiasa berpikir bahwa ia mampu mencapai tujuan seperti apapun, termasuk tujuan yang tidak realistis, karena ia dapat menghalalkan segala cara.

visiondevelopment.org

Ketika si anak beranjak dewasa, tentu ia memiliki tujuan tersendiri dalam kehidupannya. Akan tetapi, jika ia menetapkan tujuan yang tidak realistis dan meyakinkan dirinya mampu (sebenarnya tidak), mungkin ia mengalami frustrasi bahkan sampai pada depresi. Atau bahkan ia mencari "cara instan" untuk mencapai tujuannya. Dalam kondisi depresi ia melakukan cara instan tersebut, mungkin saja ia tidak lagi memertimbangkan apakah cara itu baik untuk dilakukan/tidak, atau bahkan merugikan dirinya sendiri.

venturebeat.com
Umumnya kita berpikir untuk membenahi seorang anak. Kita terbiasa berpikir bahwa seorang anaklah yang harus diarahkan. Terutama pada saat si anak masih berusia dini, golden age, kita tentu tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk membuat si anak bertumbuh dan berkembang sesempurna mungkin. Akan tetapi jangan lupakan bahwa seorang anak dapat bertumbuh dan berkembang jika diarahkan dengan benar. Siapa saja yang berperan dalam mengarahkan si anak? Ada berbagai pihak yang berkontribusi dalam pertumbuhan dan perkembangan anak, tetapi yang umumnya berkontribusi besar adalah kedua orangtuanya.


www.freeeducationideas.com

Keluarga adalah unit sosial terkecil dalam masyarakat (Waluya, 2007). Ayah, ibu, dan anak adalah komponen dalam keluarga inti. Pertama kalinya anak berinteraksi dengan orang lain dimulai dari keluarga. Ia berinteraksi dengan ayah dan ibunya terlebih dahulu, kemudian ia belajar berinteraksi dengan orang-orang di luar keluarganya. Jadi, pihak-pihak yang terlibat lebih banyak dalam perkembangan anak umumnya adalah keluarga. Dalam hal ini, bukan hanya anak yang harus diarahkan, tetapi orangtua juga perlu belajar bagaimana cara mengarahkan anaknya dengan benar.

Orangtua yang baik tentu memahami seperti apa kemampuan anaknya. Mereka menaruh harapan yang mereka yakini anak mampu mewujudkannya. Mereka tidak memaksakan kehendak mereka kepada anak, karena mereka paham bahwa hal tersebut tidak akan membuahkan hasil yang baik bagi anak. Tidak hanya anak yang perlu belajar, tetapi kita sebagai orang dewasa pun harus belajar agar dapat membimbing generasi yang lebih muda daripada kita.


Try to learn something about everything and everything about something -
Thomas Huxley

Referensi

Nurrahman, A. (2011). Prestasi anak atau ambisi orangtua? Diambil dari: http://www.psikologizone.com/prestasi-anak-atau-ambisi-orangtua/065112130
Sunarti, E. (2004). Mengasuh dengan hati: Tantangan yang menyenangkan. Jakarta: Elex Media Komputindo.

Waluya, B. (2007). Sosiologi: Menyelami fenomena sosial di masyarakat. Bandung: Setia Purna Inves.