Sedikit cuplikam untuk mengucapkan "Halo, selamat tahun baru 2015"
Hello semuanya...
Hello semuanya...
Ada satu budaya yang umumnya menjadi tradisi khas dari Dunia Barat, yaitu "resolusi akhir tahun" (Mozdzierz, Peluso, & Lisiecki, 2009). Sudah tidak asing dengan kata-kata ini, bukan? Sebenarnya, apakah resolusi akhir tahun itu? Menurut tradisi ini, seseorang akan membuat sebuah komitmen untuk memerbaiki dirinya di tahun mendatang. Tidak hanya sekadar mengucapkan, tetapi juga melakukannya. Mengucapkan itu mudah, melakukan itu sulit, akhirnya komitmen tidak terwujud, itulah yang sering terjadi.
Performa yang terbaik akan terlihat jika komitmen seseorang sangat kuat dan tujuannya pun tinggi, tetapi keinginannya juga dilandasi dengan sikap bertanggung jawab untuk memenuhi tujuannya. Dengan kata lain, seseorang tidak akan berhasil mencapai tujuannya tanpa usaha yang maksimal. Seringkali, seseorang menetapkan tujuan yang terlalu tinggi bagi diri sendiri, akibatnya ia tidak mampu merealisasikan tujuannya. Sayangnya ia belum menyadari bahwa potensinya masih perlu ditingkatkan untuk mencapai tujuannya. Ia pun terus menerus mengulangi kesalahannya.
Salah satu kecenderungan yang umum bagi seseorang adalah "menginginkan kesempurnaan" (Horney dikutip dalam Feist & Feist, 2009). Orang yang memiliki kecenderungan ini memang terus berusaha mencaapai tujuannya. Usaha tersebut merupakan bukti yang akan membuatnya lebih percaya diri dan merasa berhasil. Di lain sisi, ia tidak menoleransi kesalahan dan kekurangan sekecil apapun, termasuk kekurangan dalam dirinya. Ia cenderung untuk tidak menampilkan kelemahannya kepada orang lain.
Orang-orang seperti yang dideskripsikan oleh Horney memiliki kesamaan dengan orang yang menetapkan tujuan terlalu tinggi bagi dirinya sendiri. Tujuan yang ditetapkan bukanlah tujuan yang realistis, sesuai dengan kemampuannya. Ia pun mengharapkan tujuannya akan terpenuhi dengan sempurna. Jika di tengah tahun ia menjumpai sedikit saja kegagalan, apakah ia dapat menoleransi kegagalan tersebut? Pada kenyataannya, rasa percaya dirinya justru akan semakin menurun karena ia beranggapan ia selalu gagal.
Meskipun orang lain beranggapan ia telah sukses memenuhi tujuannya, ia tidak berpandangan demikian. Ia menganggap itu bukan kesuksesan dan berhenti mencoba, akibatnya tujuan tidak tercapai. Tujuan apapun dapat direalisasikan asalkan kita mengetahui kelebihan/kekurangan kita sampai sebatas mana. Dengan mengetahui batasan-batasan yang kita miliki, kita akan mengetahui tujuan seperti apa yang realistis untuk dicapai dan mana yang tidak realistis.
Kegagalan merupakan hal yang umum terjadi, setiap orang pernah mengalami kegagalan. Justru dari kegagalan itulah kita mengetahui kekurangan dari usaha kita. Kegagalan bukanlah hal yang menghentikan kita untuk terus berusaha, tetapi merupakan awal usaha untuk mencapai tujuan. Sekarang, apa resolusi Anda untuk tahun 2015?
"Failure is not fatal, but failure to change might be."
-John Wooden-
~Happy New Year 2015~
Referensi
Eysenck, M. W. (2004). Psychology: An international perspective. East Sussex, England: Psychology Press.
Feist, J., & Feist, G. J. (2009). Theories of personality (7th ed.). New York, NY: McGraw Hill.
Mozdzierz, G. J., Peluso, P. R., & Lisiecki, J. (2009). Principles of counseling and psychotherapy: Learning the essential domains and nonlinear thinking of master practitioners. Madison Avenue, NY: Taylor & Francis Group.









