Wednesday, 31 December 2014

Resolusi Tahun Baru

Sedikit cuplikam untuk mengucapkan "Halo, selamat tahun baru 2015"
Hello semuanya...

Ada satu budaya yang umumnya menjadi tradisi khas dari Dunia Barat, yaitu "resolusi akhir tahun"  (Mozdzierz, Peluso, & Lisiecki, 2009). Sudah tidak asing dengan kata-kata ini, bukan? Sebenarnya, apakah resolusi akhir tahun itu? Menurut tradisi ini, seseorang akan membuat sebuah komitmen untuk memerbaiki dirinya di tahun mendatang. Tidak hanya sekadar mengucapkan, tetapi juga melakukannya. Mengucapkan itu mudah, melakukan itu sulit, akhirnya komitmen tidak terwujud, itulah yang sering terjadi.

sosbud.kompasiana.com
Menurut Locke (dikutip dalam Eysenck, 2004), dalam hal komitmen terdapat sebuah komponen utama, yaitu "tujuan." Tujuan merupakan hal yang ingin dicapai oleh seseorang. Tujuan diasosiasikan dengan tingkat kesulitan mencapai tujuan dan performa seseorang. Semakin tinggi tujuannya, semakin sulit mencapainya dan menghasilkan performa yang baik. Tentunya performa yang diharapkan adalah yang terbaik. Pertanyaannya, bagaimana cara memerolehnya?

Performa yang terbaik akan terlihat jika komitmen seseorang sangat kuat dan tujuannya pun tinggi, tetapi keinginannya juga dilandasi dengan sikap bertanggung jawab untuk memenuhi tujuannya. Dengan kata lain, seseorang tidak akan berhasil mencapai tujuannya tanpa usaha yang maksimal. Seringkali, seseorang menetapkan tujuan yang terlalu tinggi bagi diri sendiri, akibatnya ia tidak mampu merealisasikan tujuannya. Sayangnya ia belum menyadari bahwa potensinya masih perlu ditingkatkan untuk mencapai tujuannya. Ia pun terus menerus mengulangi kesalahannya.

studyinjogja.net


Salah satu kecenderungan yang umum bagi seseorang adalah "menginginkan kesempurnaan" (Horney dikutip dalam Feist & Feist, 2009). Orang yang memiliki kecenderungan ini memang terus berusaha mencaapai tujuannya. Usaha tersebut merupakan bukti yang akan membuatnya lebih percaya diri dan merasa berhasil. Di lain sisi, ia tidak menoleransi kesalahan dan kekurangan sekecil apapun, termasuk kekurangan dalam dirinya. Ia cenderung untuk tidak menampilkan kelemahannya kepada orang lain. 


www.bravoglobalteam.com
Orang-orang seperti yang dideskripsikan oleh Horney memiliki kesamaan dengan orang yang menetapkan tujuan terlalu tinggi bagi dirinya sendiri. Tujuan yang ditetapkan bukanlah tujuan yang realistis, sesuai dengan kemampuannya. Ia pun mengharapkan tujuannya akan terpenuhi dengan sempurna. Jika di tengah tahun ia menjumpai sedikit saja kegagalan, apakah ia dapat menoleransi kegagalan tersebut? Pada kenyataannya, rasa percaya dirinya justru akan semakin menurun karena ia beranggapan ia selalu gagal.


Meskipun orang lain beranggapan ia telah sukses memenuhi tujuannya, ia tidak berpandangan demikian. Ia menganggap itu bukan kesuksesan dan berhenti mencoba, akibatnya tujuan tidak tercapai. Tujuan apapun dapat direalisasikan asalkan kita mengetahui kelebihan/kekurangan kita sampai sebatas mana. Dengan mengetahui batasan-batasan yang kita miliki, kita akan mengetahui tujuan seperti apa yang realistis untuk dicapai dan mana yang tidak realistis. 

www.hilo.co.id

Kegagalan merupakan hal yang umum terjadi, setiap orang pernah mengalami kegagalan. Justru dari kegagalan itulah kita mengetahui kekurangan dari usaha kita. Kegagalan bukanlah hal yang menghentikan kita untuk terus berusaha, tetapi merupakan awal usaha untuk mencapai tujuan. Sekarang, apa resolusi Anda untuk tahun 2015? 

"Failure is not fatal, but failure to change might be."
-John Wooden-

~Happy New Year 2015~



Referensi

Eysenck, M. W. (2004). Psychology: An international perspective. East Sussex, England: Psychology Press.

Feist, J., & Feist, G. J. (2009). Theories of personality (7th ed.). New York, NY: McGraw Hill.

Mozdzierz, G. J., Peluso, P. R., & Lisiecki, J. (2009). Principles of counseling and psychotherapy: Learning the essential domains and nonlinear thinking of master practitioners. Madison Avenue, NY: Taylor & Francis Group.

Monday, 1 December 2014

Permainan dan Pergaulan

"Apa yang paling membuat kamu bahagia?" adalah sebuah pertanyaan yang umum. Kalau kita bertanya pada seorang siswa, mungkin kita akan menemukan jawaban "nilai bagus." Setelah kita melihat lebih dalam kehidupan siswa bersangkutan, ada sebuah hal yang dapat membuat kita paham bagaimana itu terjadi. Ada di antara para siswa yang dididik dengan prestasi akademik sebagai penekanannya. Seringkali pergaulan mereka dibatasi. Mereka dilarang keluar rumah bersama teman-temannya atau bermain, tetapi orangtua hanya menampilkan ekspresi senang ketika anaknya belajar sesuai dengan perintahnya.

Sekadar bersenang-senang tidak masalah, orangtua berperan dalam mengatur waktu si anak. "Mengatur waktu" bukan berarti orangtua harus membuat jadwal yang harus diikuti oleh anaknya, misalnya...

Pk. 7.00-13.00: belajar di sekolah
Pk 13.30 harus tiba di rumah
Pk 13.30-14.00: makan siang
Pk. 14.00-18.00 les
dan seterusnya....

Jika si anak bermain sepulang sekolah, ia dimarahi dan harus menuruti perintah orangtuanya untuk belajar. Orangtua memang menginginkan yang terbaik bagi anaknya, tetapi kadang-kadang ada orangtua yang belum menaruh perhatian lebih pada kebutuhan emosional anak dengan memberinya waktu untuk melakukan kesukaannya.

www.popularmechanics.com

Bahkan ada sebuah kasus, seorang anak benar-benar dibatasi dalam hal permainan. Dia sama sekali tidak boleh bermain game. Menurut orangtuanya, bermain game tidak baik, karena anak akan melupakan waktu belajar. Pertanyaannya, aapakah bermain sama sekali tidak bermanfaat dan belajar adalah satu-satunya hal yang bermanfaat?

 Melalui sebuah permainan, seorang anak dapat mengembangkan aspek-aspek lain yang belum tentu didapat dari belajar di sekolah/kursus. Di sekolah ia belajar untuk menambah pengetahuan. Akan tetapi, dengan bermain ia dapat memelajari hal yang berbeda. Contohnya, dalam permainan tertentu ada masalah yang harus diselesaikan agar pemain dapat melanjutkan ke level berikutnya. Dalam permainan ini, si anak akan menerapkan cara menyelesaikan masalah melalui permainan. Dalam kehidupan nyata, kemampuan ini sangat diperlukan, terutama jika si anak beranjak dewasa dan harus mandiri. 

Terdapat pula tipe permainan yang memerlukan kerja sama agar tujuan dalam permainan itu tercapai. Si anak tidak hanya mengandalkan dirinya sendiri, tetapi ia belajar percaya dan mengandalkan orang lain. Anak-anak lainnya pun juga belajar hal yang sama. Dengan bekerja sama dalam permainan seperti ini, si anak dapat mengembangkan keterampilan bekerja sama. Di dalam kemampuan ini sudah termasuk kemampuan memimpin dan mengikuti orang lain. Apakah permainan itu buruk?

www.gamespot.com

Permainan akan terkesan buruk jika pemain tidak dapat mengendalikan hasratnya untuk terus bermain, Contoh yang dapat kita temukan adalah "kecanduan main game." Game yang dimaksud dapat berupa permainan seperti play station, komputer, game boy, dan lain-lain. Tidak hanya game, ada pula anak yang dikatakan "gila bola." Konotasi "kecanduan" berarti sudah melebihi batas kewajaran, sehingga akan mengganggu aktivitas lainnya. Si anak hanya ingat untuk bermain, tetapi dia lupa belajar, lupa melaksanakan tanggung jawab di rumah, dan sebagainya. Hal inilah yang seharusnya diperhatikan orangtua dalam mendidik anak, terutama membatasi proporsi waktu bermainnya tetapi tidak berlebihan.

Sekarang kita lihat sedikit lebih jauh perkembangan psikososial anak yang selalu dibatasi pergaulan dan permainannya.... Ketika si anak bertemu dengan teman-temannya, ia hanya dapat melihat anak-anak lain berkumpul dalam kelompok membicarakan permainan saat jam istirahat. Anak-anak itu tidak hanya bekerja sama dalam bermain, tetapi saat diminta membentuk kelompok untuk mengerjakan tugas, mereka dapat bekerja kelompok dnegan baik. Si anak pun mencoba mendekati anak-anak ini. Hal-hal yang dapat ia bicarakan hanya pelajaran, ia tidak dapat membicarakan mengenai permainan, Nilai-nilai yang tertanam dalam keluarganya adalah pentingnya prestasi akademik, sehingga ia tidak menganggap permainan itu penting. Apa yang terjadi jika si anak berinteraksi dengan kelompok anak tersebut?

Kelompok tersebut justru merasa terganggu dengan kehadiran si anak. Si anak bingung mengapa hanya dia yang tidak dapat bergaul di dalam kelas. Setiap ia mendekati seorang teman, dia tidak dapat membina hubungan yang dekat. Anak-anak lain bersenang-senang, tetapi dia menyendiri di kelas. Perpustakaan menjadi sahabat yang menemaninya di waktu istirahat. Bukan karena dia suka membaca buku, tetapi dia tidak tahu apa yang harus ia lakukan selama waktu istirahat jika tidak ada tugas yang dapat dikerjakan.

www.parentmap.com

Anak-anak lain mendeksripsikan si anak sebagai orang yang pintar, sangat serius dalam belajar. Mereka hanya mendekati si anak jika memerlukan bantuan dalam pelajaran. Sayangnya, orangtua si anak tidak memerbolehkannya membantu anak lain. Orangtua si anak jusru menyuruhnya memikirkan diri sendiri dan prestasi akademiknya. Dengan membantu orang lain, prestasinya akan menurun, sehingga lebih baik dia belajar sendiri, itulah yang dipikirkan ornagtuanya. Setelah itu, dia sama sekali tidak pernah benar-benar tersenyum karena kebahagiaan dalam hatinya.

Dia hanya beranggapan menuruti orangtuanya dan meraih prestasi yang baik adalah hal yang menyenangkan. Akibatnya, ia tidak pernah menikmati masa kecilnya dan dia sama sekali tidak menyadari masalah ini dalam dirinya. Selain itu, sampai ia beranjak dewasa kemampuannya dalam menjalin hubungan tetap seperti itu karena dia hanya memikirkan prestasi, prestasi, dan prestasi. Orangtuanya pun semakin bangga kepadanya, tetapi tidak mengetahui perasaan si anak yang terluka sejak kecil.

Si anak tidak pernah mengalami indahnya persahabatan. Dia hanya dapat berharap seseorang mau mendekatinya dan berteman dengannya, karena dia tidak mampu mendekati orang lain. Masalah tersebut tidak akan tuntas jika si anak tidak menyadari apa yang telah terjadi kepada dirinya sejak kecil. Luka batin memang menyakitkan, tetapi seperti luka pada umumnya. Sebuah luka akan sembuh jika dibirkan terbuka dan diobati.

Setelah ia menyadari perasaannya yang terluka, mungkin dia akan terdiam sementara, Dia terdiam karena dia kembali merasakan pengalaman sebelumnya. Alangkah baiknya jika ia dapat mengekspresikan perasaan-perasaannya yang terluka dan sudah lama terpendam. Selanjutnya, ia akan kembali tersenyum perlahan-lahan jika ia bersedia untuk mulai berbaur dengan teman-temannya.

Minions Cheering (Despicable Me)


The antidote for fifty enemies is one friend.
~Aristotle~



Tuesday, 25 November 2014

Pentingnya Kasih dalam Mendidik Anak

Kasih dapat dipersepsikan dengan berbagai macam cara. Ada yang menganggap kasih adalah perasaan mencintai seseorang. Ada pula yang memandang kasih sama dengan hal-hal yang bersifat materialistik. Jika kita melihat ke lingkungan sekitar kita, apakah kita akan merasakan kasih dalam lingkungan tersebut? Mungkin ya, mungkin tidak. Pada saat kita tidak dapat merasakan kasih dalam sebuah lingkungan, kemungkinan orang-orang dalam lingkungan tersebut memang kurang mampu mengekspresikan kasih secara tepat.

Pertanyaannya, dengan mengungkapkan, "Saya mengasihi kamu," "Saya mencintai kamu," dan "Saya sayang kamu." apakah kata-kata manis ini sudah benar-benar mewakili perasaan mengasihi kita kepada orang lain? Kasih yang sebenarnya adalah kasih yang tulus, tanpa perlu diucapkan pun kasih itu dapat terasa. Perasaan nyaman saat berelasi dengan seseorang dapat menjadi salah satu faktor bahwa orang tersebut dapat mengekspresikan kasih dengan tepat.

Kurang mampunya seseorang dalam mengasihi dapat diawali dengan salah satu cara, yaitu menelusuri pengalaman masa kecilnya. Selama berada dalam keluarga, seperti apa keluarga ini mendidik anaknya sampai ia berkembang seperti sekarang, itulah yang akan menjadi salah satu faktor yang akan menentukan bagaimana si anak akan berkembang.

Seringkali kita menjumpai seorang anak dididik dengan bagitu "bagus," kesannya.... "Bagus" yang dimaksudkan adalah orangtua dapat mendidik anaknya menjadi pribadi yang sangat pintar, bahkan ia mampu memeroleh nilai sempurna dalam setiap pelajaran. Kalau kita lihat lebih dalam lagi, setiap hari si anak mengikuti berbagai kursus. Sepulang kursus, ia bahkan disuruh belajar kembali, nyaris tidak ada waktu untuk beristirahat dan bermain dengan teman-temannya.

Saat di sekolah, orangtuanya sibuk membicarakan perasaan bangga anaknya berprestasi. Mereka juga membandingkan prestasi anaknya dengan prestasi anak dari orangtua lainnya. Beberapa di antara mereka pun mencari "soal bocoran" untuk anaknya belajar. Hal yang ada di dalam benak mereka adalah PRESTASI anaknya, belajar, belajar, dan belajar. Mereka tidak terlalu menaruh perhatian pada kesejahteraan mental si anak, cenderung lebih banyak memerhatikan aspek intelektual.

Suatu hari, seorang teman sekolah meminta si anak mengajarinya. Reaksi orangtua si anak, "Ngapain kamu ngajarin dia? Mendingan kamu belajar, supaya nilai kamu bagus." Kalau ada yang memerlukan bantuan anaknya, orangtua justru mengajarkan si anak untuk tidak membantu sama sekali. Jika mereka membantu, mereka dikatakan tidak cerdas. Namun, ketika si anak tidak membantu dan lebih memikirkan diri sendiri, memilih untuk belajar, orangtuanya mengatakan, "Iya, gitu dong.... baru pinter namanya." Jika si anak menghadapi situasi serupa di kemudian hari, pilihan mana yang akan dipilihnya? Akankah ia membantu temannya? Atau dia lebih mementingkan diri sendiri?

Perilaku yang akan diperkuat adalah perilaku mementingkan diri sendiri. Akibatnya, si anak tidak mengasihi temannya sendiri. Apabila si anak juga sudah menanamkan nilai "pentingnya perestasi akademik" ia akan terus memerioritaskan itu, karena ia selalu dipuji ketika ia berprestasi. Hal yang dipikirkannya pun adalah "belajar, belajar, dan belajar," sama persis seperti yang diinginkan orangtuanya.

Si anak yang memegang nilai pentingnya prestasi ini hanya memikirkan "belajar" untuk mendapat nilai baik. Ia rela menghabiskan seluruh waktunya dalam satu hari hanya untuk belajar. Ia tidak lagi memerhatikan kondisi fisiknya dan kebutuhan emosionalnya. Ia melupakan bahwa ia adalah makhluk sosial. Saat di kelas, ia selalu bertanya dalam dirinya, "Gimana ya cara dapet 100? Gimana cara dapet A?" 

Sebelumnya, si anak belum pernah belajar mengasihi, hanya belajar untuk mendapat nilai baik. Dapatkah Anda membayangkan perilakunya saat bergaul dengan teman-temannya? Ia terlihat seperti seorang pendiam, bukan karena malu-malu. Ia kebingungan harus melakukan apa untuk memulai pembicaraan dengan orang lain. Ia mungkin pernah belajar bagaimana cara menjalin relasi, tetapi ia tidak mengerti bagaimana cara menjalinnya dengan kasih. Ia sulit menerima orang lain dengan kekurangannya, karena ia hanya mengejar kesempurnaan dalam nilai akademis dan tidak pernah belajar bertoleransi terhadap kekurangan.

www.hdwallpapers.in
Dalam pikiran seorang anak yang kurang mampu berelasi terdapat begitu banyak hal yang dipikirkan. Banyaknya hal tersebut akan menimbulkan ketidaknyamanan tersendiri dalam menempatkan diri dalam lingkungan sosial. Ia tidak tahu harus memulai pembicaraan seperti apa, bagaimana harus berperilaku, bahkan ia tidak banyak tersenyum. Ia hanya mampu menanggapi orang lain, tetapi ia kurang mampu memulai interaksi. Seakan-akan ia tampak seperti bongkahan es yang terkesan begitu dingin dan orang lain pun ragu-ragu untuk mendekatinya.

Belajar memang hal yang penting, tetapi alangkah baiknya jika kebutuhan intelektual anak diimbangi dengan kebutuhannya akan kasih. Kita sendiri selalu ingin dikasihi dan diterima lingkungan sosial, bagaimana dengan seorang anak yang masih lugu, tidak berdaya, dan belum mengenal kasih? 

Pentingkah menanamkan kasih dalam pendidikan anak oleh keluarga?

Sunday, 16 November 2014

Kisah Si Anak Tunggal

Jujur saja, saya memang seorang anak tunggal. Kalau saya bertemu dengan orang lain yang menanyakan, "Kamu berapa bersaudara?" umumnya mereka akan menampilkan ekspresi terkejut atau terpesona setelah saya mengungkapkan identitas saya sebagai anak tunggal. Pertanyaan berikutnya yang dilontarkan, "Kamu ga kepingin punya dede?" atau "Enak dong! Apa-apa diturutin sama mama papa ya?" Reaksi yang lazim bukan? 

cindylivingstoneministries.wordpress.com
Gambaran sosok anak tunggal dalam pikiran orang-orang secara umum adalah status yang diproritaskan sebagai "anak emas" dan kesepian yang dialami seorang anak. Seorang anak tunggal memang tidak memiliki saudara di rumahnya. Ia mungkin hanya tinggal bersama orangtuanya saja atau bersama keluarga besar, tetapi ia tidak memiliki saudara. Mungkin setiap keinginannya dituruti, tetapi apakah itu menjadi jaminan bahwa dia pasti merasa bahagia?
Atau
Rasa kesepian yang dialaminya adalah karena tidak bersaudara?

Faktor-faktor yang menjadi penanda seorang anak mengalami kesepian terdiri dari berbagai macam hal yang beraneka ragam. Misalnya, orangtua yang jarang berada di rumah untuk memberikan kasih sayang, tidak memiliki teman untuk berbagi cerita, tidak ada teman untu bermain, ditelantarkan, dan lain-lain. Tidak ada jaminan yang pasti untuk mengatakan seorang anak tunggal selalu mengalami kesepian. Merasa kesepian atau tidak itu tergantung dari lingkungan sosial tempatnya berada, apakah lingkungan sosialnya mampu memenuhi kebutuhannya akan kasih sayang ataukah tidak. Perasaan kesepian mungkin menjadi salah satu hal yang dapat membuat seorang anak tertekan. Selain itu, masih ada hal lainnya, yaitu kondisi pada saat si anak tunggal memainkan lebih dari satu peran dalam keluarga. 


Sebelum membaca pembahasan berikutnya, silakan Anda bayangkan situasi keluarga dengan dua orang anak:

Sebuah keluarga terdiri dari sepasang suami istri yang memiliki tiga orang anak. Profesi ayah adalah wiraswasta, ia membuka sebuah toko barang-barang kebutuhan rumah tangga. Istrinya adalah seorang ibu rumah tangga. Ia tidak hanya menjalani tugasnya sebagai seorang istri dan ibu, ia juga membantu pekerjaan suaminya di rumah, yaitu pada saat para pegawai datang ke rumah untuk mengambil persediaan barang dan menerima kiriman barang yang datang ke rumah.

Anak pertama berperan dalam membantu pekerjaan ayahnya, sama seperti peran yang dilakukan ibunya di rumah. Kesibukan lainnya, ia masih menjalankan studinya dan seringkali meninggalkan rumah untuk kerja kelompok. Anak kedua masih SMA, ia belum bekerja. Jika dibandingkan, ia lebih sering berada di rumah daripada kakaknya. Ketika salah satu anggota keluarganya sakit, ia yang lebih banyak berperan untuk membantu anggota keluarga selama dirawat.


Dalam situasi seperti di atas, sang kakak dan adik dapat berinteraksi satu sama lain dan berkoordinasi untuk membagi peran masing-masing dalam keluarga. Tidak hanya kemampuan berinteraksi dengan orang lain yang berkembang melalui interaksi antarsaudara, tetapi kemampuan bekerja dalam tim juga berkembang. Mereka dapat menggantikan peran seorang anggota keluarga yang sedang memiliki hambatan, saling melengkapi satu sama lain. Masalah yang muncul akan lebih mudah diatasi selama mereka bekerja sama.

Jika kita ubah situasinya menjadi keluarga dengan anak tunggal, dapatkah Anda membayangkan perbedaannya? Si anak harus menjalani semua peran yang dijalankan si kakak dan si adik dalam situasi pertama. Kalau ia memiliki teman dekat, tanggung jawab yang diembannya akan terasa lebih ringan karena ia dapat mencurahkan perasaannya dengan bercerita kepada temannya. Namun, tanggung jawab yang dimilikinya jauh lebih besar daripada anak-anak yang memiliki saudara dalam keluarganya.

Masalah yang dialami anak tunggal dalam keluarga tentu berbeda daripada anak lainnya, bukan? Ketika kita bertemu seorang anak tunggal, mungkin beberapa di antara mereka tidak terlalu mampu membina hubungan dengan orang lain, karena ia belum memiliki pengalaman yang cukup seperti anak yang bersaudara. Mungkin masih ada yang menganggap mereka sebagai "anak emas" karena dianggap selalu memeroleh setiap keinginannya. Namun, ada beberapa anak tunggal yang berkembang dengan cara yang berbeda. Mereka justru tidak terlalu bergantung pada orangtua dan lingkungannya. Mereka dapat berdiri dengan kakinya sendiri, karena mereka mengemban tanggung jawab yang besar dalam keluarga.

Baik anak yang bersaudara, maupun anak tunggal, keduanya sama-sama memiliki kelebihan. Tidak ada yang lebih baik atau lebih buruk, keduanya adalah sama. Setiap anak mungkin bertumbuh dan berkembang dalam periode yang sama. Namun, apa yang mereka alami juga akan menjadi faktor yang menentukan bagaimana kepribadian mereka akan berkembang. Itulah yang menjadi salah satu hal yang membuat kepribadian itu unik, karena setiap orang memiliki kepribadian yang berbeda.

Thursday, 13 November 2014

Butiran Debu yang Tidak Berarti

Terkadang kita berada dalam situasi yang seakan-akan tidak ada jalan keluar. Napas kita terasa begitu sesak. Pikiran kita tidak tenang, selalu masalah yang terbayang dalam pikiran kita. Satu masalah belum selesai kita atasi, datang pula masalah lainnya. Semakin hari semakin berat masalah yang kita hadapi. Setiap solusi yang kita lakukan sama sekali tidak mengubah keadaan. Kita merasa lemah, tidak berdaya sama sekali. Kita hanya melayang ke sana kemari bersama masalah yang kita hadapi, tanpa tujuan dan solusi yang pasti.

Kita sama seperti butiran debu yang tidak berarti. Begitu ringan, melayang ke sana kemari diterbangkan oleh angin. Kita sama sekali tidak memiliki tempat untuk berpijak, sama sekali tidak memiliki tujuan kemana kita pergi. Begitu lembut, begitu lemah. Jangankan menghancurkan batuan, menghancurkan sehelai daun pun kita tidak akan sanggup karena begitu lemahnya kita.

Masalah yang kita harapi bagaikan sebuah batu besar yang akan ditembus oleh butiran debu. Kelihatannya sangat tidak mungkin, bukan? Bagaimana mungkin debu dapat menembus batu yang begitu keras, begitu besar, dan kokoh? Kita hanya berfokus pada batu itu saja. Kitalah yang memersepsikan kita itu lemah di hadapan batu yang besar. Kita pula yang memilih untuk memersepsikan demikian, tidak ada siapapun yang menyuruh kita memandang diri kita lemah.

Meskipun batu ini begitu besar dan kokoh, ia selalu terkikis oleh angin yang begitu lembut dan lemah. Setiap hari, bagian yang terkikis itu akan semakin dalam hingga batu itu retak, bahkan hancur menjadi batuan-batuan kecil. Bukankah debu adalah sesuatu yang selalu terbawa oleh angin? Dengan demikian, bukankah debu itu dapat dikatakan dapat mengikis batu yang besar?

Sama halnya seperti masalah yang kita hadapi. Kita selalu memikirkan betapa besar masalah yang kita hadapi. Kita tidak menghargai setiap usaha yang kita kerahkan untuk mengatasi masalah. Tidak peduli seberapa besar atau seberapa kecil usaha yang kita kerahkan, itu semua adalah tetap usaha. Perlahan-lahan, sedikit demi sedikit, masalah itu akan teratasi, asalkan kita konsisten dan tetap bersabar.

Kita memang hanya butiran debu, begitu kecil dan lemah, yang terkesan tidak dapat melakukan apa-apa. Namun, kita dapat menjadi pemenang dalam setiap perkara dengan keyakinan bahwa Tuhan akan menuntun kita melewati segala perkara. Semakin sulit perkara yang kita hadapi, menandakan Tuhan ingin kita berkembang lebih daripada yang sekarang. Tetaplah bersyukur dalam setiap perkara.

"Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu" (Matius 25: 21).

Monday, 20 October 2014

Pengharapan

Setiap masalah yang kita hadapi dalam kehidupan tidak akan pernah berhenti. Satu masalah selesai, masalah lain akan muncul. Masalah yang kita hadapi terkadang ringan, terkadang berat, atau justru semakin berat. Di antara kita tentu ada yang menyerah dan melarikan diri dari masalahnya, ada pula yang terus berjuang mengatasinya. Tidak jarang sebuah masalah menimbulkan konflik dalam diri kita.

Bayangkan, dari jauh-jauh hari kita sudah merencanakan sesuatu, tiba-tiba ada kejadian tidak terduga dan tidak dapat kita tinggalkan (misalnya ada anggota keluarga yang harus dirawat di rumah sakit pada hari itu) yang mengharuskan kita mengubah rencana. Jika kita membatalkan rencana kita, mungkin ada pihak-pihak lain yang terlibat, berpotensi menimbulkan masalah baru. Jika kita terus menjalankan rencana kita, mungkin akan mendatangkan penyesalan.

Kita tidak tahu kemana kita harus berjalan dan apa yang harus kita perbuat. Berjalan di tempat pun bukan sebuah solusi, karena keduanya tidak akan mendatangkan penyesalan yang jauh lebih besar. Kita pun tidak dapat membalikkan waktu, kita hanya berjalan dalam waktu yang sekarang dan tidak dapat mengubah masa lalu. Bayangkan, apa yang Anda rasakan dalam situasi demikian? Anda tidak dapat melangkah maju ataupun mundur kembali dan tidak tahu apa tujuan Anda.

Berdoalah kepada Tuhan untuk memohon agar Ia berkenan membukakan jalan kepada kita. Ia tidak akan meninggalkan kita. Mata-Nya selalu menyaksikan kehidupan kita, telinga-Nya selalu mendengar teriakan hati kita. Dari luar kita tampak baik-baik saja, tetapi hati kita benar-benar rapuh. Hati kita terus berteriak meminta pertolongan. Orang lain tidak mengetahui hal ini, tetapi Tuhan mengetahuinya, karena tidak ada yang dapat kita sembunyikan dari-Nya.

Ia selalu rindu untuk mendengarkan kita. Ia tidak membiarkan kita bergumul sendiri, Ia ingin kita bergumul bersama-Nya dan menyerahkan semua masalah ke dalam tangan-Nya, bersekutu dengan-Nya. Ia mungkin tidak akan membuat masalah itu menjadi lebih mudah diatasi, tetapi ia memberikan kita sesuatu agar kita dapat terus berjalan dan tidak putus asa, sebuah pengharapan.

Ibarat sebuah jalan yang penuh kerikil, Anggaplah kerikil-kerikil ini sebagai masalah-masalah dalam hidup kita yang tidak terhitung jumlahnya. Jangankan berjalan maju, mundur pun tetap kerikil yang kita jumpai. Berjalan ke kanan dan ke kiri pun sama seperti itu. Tuhan menunggu kita di ujung jalan, Ia menantikan kita untuk datang kepada-Nya. Ia tidak hanya diam menyaksikan kita dalam kesulitan, Ia terus memberikan kita semangat untuk bangkit dan kembali berjalan.

Seandainya kita terjatuh, Ia tidak hanya diam. Ia berada di depan kita untuk menopang kita dan Ia kembali menyaksikan perjuangan kita untuk berjalan sampai akhir, sampai kita berhasil sampai ke ujung jalan yang penuh masalah. Meskipun jumlah batu kerikil itu sangat banyak, kasih setia Tuhan melebihi itu semua dan tidak tergantikan. 

Misalkan kita menemukan batu yang sangat besar yang mustahil untuk dilewati, jangan lupakan bahwa Tuhan berkuasa atas segalanya. Tetaplah berpegang pada pengharapan kepada-Nya dan saksikan apa yang terjadi berikutnya. Kita tidak perlu berpikir apa yang akan terjadi selanjutnya atau bagaimana Tuhan menolong kita, percayalah Ia sudah menyiapkan semuanya.

Sesuatu yang dipersiapkan oleh-Nya tidak mungkin dapat kita bayangkan, mungkin melebihi akal sehat kita. Anda juga tidak mengira jika pada saat batu besar di hadapan Anda saat ini adalah waktunya batu itu akan hancur seketika bukan? Ingatlah, segala sesuatu yang mustahil bagi kita adalah sangat mungkin bagi-Nya.

request.org.uk

Monday, 13 October 2014

Bersandar kepada Tuhan

Seorang teman mengatakan ia sedang berada dalam masalah selama melakukan penelitian skripsi. Dosen pembimbing memberikannya kesempatan untuk bekerja secara mandiri, karena yakin dengan kemampuannya. Namun, ia sendiri tidak yakin dengan kemampuannya. Ia terus mencari bantuan dari teman-teman lainnya, sebab ia ingin penelitiannya berhasil.

Pada suatu saat, ia tidak mengetahui langkah yang harus dilakukannya sebelum benar-benar terjun ke lapangan. Ia tidak mengetahui apa yang harus dipersiapkan, apa yang harus dikerjakan, dan apa yang harus diperbaiki. Kekhawatiran pun muncul. Ia tertekan, namun ia menyadari satu hal.

Dalam hatinya ia berkata, "dalam ketidakberdayaan ia akan semakin ingin mengandalkan Tuhan dalam pergumulannya."

Dalam sukacita, kita cenderung menikmati segala berkat, bahkan setiap saat kita terus meminta pemberkatan dari Tuhan. Terkadang, berlimpahnya berkat membuat kita lupa Siapa yang memberikannya kepada kita. Apa yang terjadi saat kita berada dalam kondisi terpuruk? Kita menyalahkan Tuhan. Kita menyesali nasib kita sendiri. Kita kehilangan pemikiran positif bahwa penderitaan itu belum tentu terjadi selamanya, karena suatu saat Ialah yang akan membebaskan kita dan tidak akan terlambat menyelamatkan kita.

www.mhyelearning.com
Apapun yang kita minta kepada-Nya dalam nama-Nya, tentu akan diberikan. Namun, Ia pun ingin menguji kesetiaan kita kepada-Nya melalui seberapa tekun kita berdoa. Ia mengetahui setiap rancangan yang ada pada-Nya dan mengetahui kapan waktu terbaik mengabulkan permintaan kita. 





Terkadang, kita beranggapan Ia tidak mengabulkan keinginan kita....
Kita meragukan-Nya.

Kita adalah manusia yang tidak mengetahui rancangan-Nya. Mungkin saja, ada hal lain yang Ia persiapkan bagi kita yang jauh lebih baik dari apa yang kita minta. Misalnya, saat teman kita ini mengalami kesulitan mengerjakan skripsi. Seakan-akan tidak ada yang dapat dilakukannya saat ini, mungkin ini adalah saatnya ia belajar mengandalkan kemampuan yang Tuhan berikan kepadanya. Tuhan ingin ia percaya pada kemampuannya dan tidak meragukan pemberian-Nya. Apa yang diberikan-Nya kepada kita, tentu adalah yang terbaik.

www.lovethispic.com

Saturday, 4 October 2014

Menjadi Penolong

Hal pertama yang terbayang ketika ada seorang penolong adalah hilangnya kesukaran seseorang. Umumnya orang tersebut akan merasa bahagia jika bertemu seorang penolong. Sebuah pertolongan juga mungkin tidak membuat seseorang tidak bahagia. Ia mengatakan bahwa dirinya sudah cukup bahagia dan tidak memerlukan pertolongan, sebuah pertolongan disalahartikan. Dari luar ia terkesan baik-baik saja, padahal dia rapuh dari dalam. Dirinya terus meminta pertolongan secara tidak sadar, tetapi dia tidak menyadarinya. Apa yang sebaiknya kita lakukan?

Selain itu, ada pula orang yang mengatakan menolong sama dengan tidak cerdas. "Lebih baik memikirkan diri sendiri dan tidak perlu memikirkan orang lain," itulah yang ada dalam benaknya. Kita memiliki kehidupan yang berlimpah hanya untuk diri sendiri dan tidak untuk orang lain, apakah itu kebahagiaan sesungguhnya? Ia tidak mengingat bahwa dia juga selalu mengharapkan pertolongan dalam kesulitan. Bagaimana jika orang lain mengatakan menolong itu tidak cerdas dan tidak membantunya?

Hanya memikirkan kepentingan sendiri tentu tidak disukai orang lain. Kita memang hidup bukan untuk disukai orang lain, tetapi kita adalah makhluk sosial. Kita tidak hidup sendiri, kita hidup bersama-sama dengan orang lain. Bukankah lebih baik kita berhubungan baik dengan orang lain, sehingga kita dapat saling membantu dalam kekurangan?

Bayangkan jika hanya kita saja yang berlimpah, tetapi orang lain tidak. Kita sama sekali tidak membantu mereka, justru membangun "tembok" untuk menjaga jarak dari mereka. Sama artinya dengan kita menutup diri kita dari orang lain. Jika ternyata posisinya berubah, kita yang paling tidak berkelimpahan, apakah mereka akan senang hati membantu kita yang telah menolak mereka?

www.coveringmedia.com

Belajar dari seekor anjing penuntun penyandang tuna netra:
Dia selalu menuntun majikannya kemanapun ia pergi.
Tidak sedikit anjing yang menghabiskan hidupnya di jalanan tanpa ada yang merawat dan memeliharanya.
Anjing penuntun ini justru tidak dibuang, ia semakin disayang dan terus dipelihara.
Jasanya dihargai oleh keluarga yang mengadopsinya.

Siapa bilang membantu orang lain itu tidak cerdas? Belajar menempatkan diri dalam posisi orang lain dan membantunya juga menjadi benih dalam hidup kita. Secara tidak sadar, kita sudah menanamkan benih dalam kepribadian kita. Semakin banyak kita lakukan, semakin kita berkembang. Semakin kita berkembang semakin baik pula kepribadian kita dan semakin banyak orang yang ingin menjadi sahabat kita.

Terkadang ada orang yang tidak ingin ditolong, tetapi hatinya pun akan luluh jika kita konsisten berbuat baik. Kita tidak harus berbuat sesuatu baginya. Namun, kita dapat berbuat baik kepada orang-orang selain dirinya terlebih dahulu. Ia akan melihat keinginan menolong yang muncul dalam bentuk nyata, setiap perkataan dan perbuatan kita. Hati yang keras akan melunak dan menampilkan hati yang sebanarnya terluka. Pada saat itulah kita dapat menolongnya. Menolong tidak berarti kita menjadi miskin, tetapi kita menjadi semakin berlimpah, tidak ada yang merugikan. Saling memberi dan saling menerima, bukankah itu indah?



“I can't surround myself with people who are hiding their pain beneath swagger and a grin.” 

Saturday, 27 September 2014

Bukan Waktunya Menyerah

Kalau ada orang yang mengatakan, "Ga bisa ya ga bisa, ga usah banyak gaya nyoba-nyoba.." mungkin beberapa di antara kita akan merasa sedikit tertekan. Mereka beranggapan ungkapan ornag tersebut adalah benar. Mereka melupakan bahwa mereka masih dapat melakukan yang terbaik meskipun mereka dalam keterbatasan.

Seseorang yang menggunakan ucapannya untuk menyakiti orang lain belum tentu dia jahat. Kita memang tidak mengetahui seperti apa masa lalunya, mungkin dia pernah mengalami kegagalan di masa lalu. Kegagalan itu yang membuatnya memersepsikan tidak perlu berusaha keras untuk menyelesaikan sesuatu. Contohnya, seorang pria mencoba melakukan salah satu pekerjaan wanita, memasak. Saat pria lain melihatnya masih belum bisa memasak, ia berkata, "Udah serahin aja ke istri, lu tungguin aja, gampang..." Si pria yang mengatakannya belum pernah berhasil membuat satu makanan pun dengan tangannya sendiri karena tidak pernah diizinkan mencoba. Kalau memang si pria ini ingin berusaha, tentu tidak ada yang salah, bukan?

Beberapa orang yang kita temui dalam kehidupan sehari-hari dapat menggunakan lidahnya untuk "menjatuhkan" mental kita. Namun, kita masih memiliki pilihan lain dalam situasi tertekan karena ucapannya.

Pilihan pertama: Mundur, tidak akan mencoba lagi.
Pilihan kedua: Tetap melakukannya sampai akhir, minimal untuk saat itu saja.

Apa pilihan Anda?

Ketika kita yakin kita akan mampu melakukannya, ada orang yang akan mendukung dan mencela kita. Dukungan dari orang lain dapat menjadi kekuatan bagi kita untuk terus maju. Kita dapat meminta saran-saran bermanfaat dari mereka untuk semakin mampu melakukan pekerjaan. Celaan seperti pedang bermata dua. Pertama, tentu kita tertekan karena celaan, tetapi kita mengetahui adanya kekurangan dalam performa kita sendiri. Kedua, celaan membuat kita tahu bahwa performa kita belum cukup baik.

waroengss.com
Jangan pernah lupakan bahwa keyakinan juga menjadi salah satu faktor yang menentukan kesuksesan. Keyakinan yang kuat akan kesuksesan akan mengarahkan perilaku kita untuk terus mencoba sampai berhasil. Keyakinan yang lemah justru akan membuat kita terpuruk. Meskipun kita memilih untuk bangkit, risiko kegagalan akan selalu ada. Hal yang perlu dilakukan adalah memikirkan cara mengatasi hambatan tersebut, bukanlah menyerah dengan semudah itu.

Seseorang yang memilih untuk mundur akan terinspirasi dengan sendirinya jika ia menyaksikan kesuksesan kita. Kata-kata yang kita ucapkan untuk mereka seakan-akan tidak sampai pada mereka. Namun, kata-kata kita mungkin akan sampai kepadanya jika disertai dengan kesuksesan kita. Itu berarti kita dapat menjadi model peran baginya, dengan kata lain kita sudah menginspirasinya untuk tidak menyerah.


Tentu saja kita tidak dapat terus menerus mengharapkan adanya oanag lain yang selalu membantu kita. Seseorang yang akan selalu ada untuk menyertai dan memampukan kita adalah Yang Maha Kuasa. Jika kita tetap berada di jalan-Nya, berbagai kesulitan dan penolakan akan kita hadapi. Dunia mungkin menolak kita, karena tidak mengenal-Nya. Namun, Ia yang akan memampukan kita dalam setiap perkara selama kita mengikut-Nya. Ia tidak akan mengatakan kita ini tidak dapat berusaha karena kita selalu gagal. Ia mengetahui standar kita dan menilai berdasarkan standar kita, sehingga Ia mengetahui kita sudah memberikan yang terbaik.